16 August 2018, 10:00 WIB

Kampanye Cegah Narkoba Manfaatkan Media Sosial


Tosani | HUT RI

Social Media Center BNN -- DOK BNN
 Social Media Center BNN -- DOK BNN

Badan Narkotika Nasional (BNN) berupaya merespons tantangan pencegahan penyalahgunaan narkoba di era digital. Caranya
BNN mendirikan Social Media Center atau lebih populer disebut Medsos Center. Penggunaan medsos untuk kampanye cegah narkoba sangat penting. Pasalnya pengguna internet sudah mencapai 132,7 juta orang berdasarkan survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia
(APJII) pada 2016.

Apalagi, mayoritas pengguna internet terkategori dalam usia produktif. Internet pun dapat diakses dari mana saja dan kapan saja.

“Kami juga memanfaatkan internet di era digital. Kami punya Medsos Center. Kami bisa mengover, memonitor, dan mengevaluasi medsos yang ada di Indonesia, baik Twitter, Instagram, Facebook, maupun lainnya. Kami monitor, analisis, evaluasi, kembangkan, dan melakukan
intervensi ke masyarakat,” cetus Kepala BNN Pusat Heru Winarko di kantornya, Jakarta Timur, Selasa (14/8).

Selama ini pengetahuan masyarakat tentang bahaya narkotika masih kurang. Informasi yang diperoleh dan interaktivitas juga kurang membuat tingkat penyalahgunaan narkoba masih tinggi. Inovasi berupa Medsos Center itu ditargetkan bertujuan meningkatkan akses informasi dan sinergi kegiatan pencegahan melalui media online serta pengukuran kinerja kampanye.

“Kalau dulu ada SMS blast, sekarang jarang, ya pakai, tapi jarang karena ada bayar pulsa. Kami memakai teknologi yang baru dan kami masukkan juga intervensi melalui pengiriman modul-modul pencegahan narkoba, termasuk pengenalan narkoba jenis baru ke pelajar dan masyarakat,” paparnya.

Setelah ada Medsos Center, BNN memiliki data monitoring dan analisis media sosial yang tepat sehingga segmen kampanye menjadi tepat sasaran. Konten sesuai dengan segmen, posting juga responsif, bahkan mampu 24 jam secara otomatis dibantu sistem teknologi informasi.

Hasilnya pengikut Medsos Center langsung meningkat. Netizen alias masyarakat menjadi sadar terhadap bahaya narkoba. Ditambah lagi, muncul peran positif netizen di ruang siber terhadap bahaya narkoba serta terbentuknya cybercommunity berbasis medsos.

Akun

Asal tahu saja, Bidang Pencegahan BNN Pusat di Twitter dapat diakses melalui akun @ bnncegahnarkoba. Akun ini telah memperoleh 13.120 followers. Di Facebook Fanpage, ada akun @bnncegahnarkoba dengan jumlah fan saat ini mencapai 4.609 nama. Akun di Instagram dapat diakses melalui @bnn_cegahnarkoba dengan pengikut mencapai 7.618.

Melalui media sosial, kampanye #StopNarkoba dan #CegahNarkoba serta kampanye baru dengan sapaan sobat cegah sudah tergolong interaktif. Sentimen positif mendominasi kampanye dengan menggunakan hastag #CegahNarkoba di seluruh topik sepanjang Januari 2018.

Sempat ada sentimen negatif lantaran AI (artificial intelligence) belum dapat menangkap sentimen negatif atau positif sesuai dengan kondisi riil. Contohnya, kata merusak dilihat sebagai sentimen negatif. Faktanya, gabungan kata tersebut memiliki arti positif dan netral. Itu merupakan kondisi wajar dalam konteks narkotika. Solusinya dengan meng-update keyword sesuai konteks yang berkaitan.

Kampanye Cegah Narkoba juga dapat diakses melalui streaming Radio CNS dengan moto inovatif, kreatif, tanpa narkoba. Streaming radio cegah narkoba juga bisa ditemui pada akun Twitter @cns_radio, akun Instagram @cns_radio, dan website www.cegahnarkoba. bnn.go.id. Streaming radio punya misi menyebarluaskan bahaya narkoba. Visinya mewujudkan Indonesia yang sehat dan bersih dari bahaya penyalahgunaan narkoba. Target sasaran pendengar streaming radio ini mayoritas berusia 21-29 tahun.

Ternyata animo masyarakat cukup menggembirakan. Pendengar streaming radio periode Desember 2017-April 2018 sebanyak 1.652 orang. Rata-rata pendengar per tahun sekitar 1.216 dan per bulan 304 orang. Asal pendengar 76% dari Indonesia dan sisanya dari berbagai negara. Total data transfer sebanyak 62,1 GB dengan waktu dengar keseluruhan mencapai 2,434 jam.

Fakta lain ialah streaming radio itu telah diakses dari Indonesia sebanyak 75%, dari Amerika Serikat 17%, dan 9% dari berbagai negara. Platform pendengar melalui Chrome 50%, Dalvik 34%, Mozilla 11%, dan lain-lain 5%. (Tosiani/S4-25)

BERITA TERKAIT