03 April 2022, 14:11 WIB

Puasa Harus Tunjukkan Etika Kemanusiaan


Mediaindonesia.com |

PERBEDAAN dalam menentukan awal puasa Ramadan merupakan perkara biasa dalam Islam. Fakta tersebut tidak perlu diperselisihkan, apalagi menjadi alasan untuk saling bertikai. 

Sikap terbaik yang perlu ditunjukkan umat Islam ialah mengingat kembali perkataan Nabi bahwa perbedaan di kalangan umat Islam merupakan rahmat yang perlu disyukuri. Demikian ditegaskan Sukidi dalam dialog Metro Pagi Primetime Metro TV, Minggu (3/4). "Ikhtilafu ummati rahmah, perbedaan di kalangan umatku adalah blessing," ungkapnya.

Umat muslim, tambah Sukidi, harus memiliki kesadaran akan perbedaan sejak dini, termasuk menyadari bahwa perbedaan di kalangan ulama pun merupakan sesuatu yang wajar. Karena itu, setiap individu dituntut untuk tidak bersikap absolut bahwa hanya pendapatnya yang benar, sementara yang lain keliru. "Kita dituntut tidak bersikap egois, memandang bahwa pendapat saya yang paling benar, pendapat Anda pasti keliru," tandasnya.

Pemikir kebinekaan itu menegaskan sikap-sikap negatif seperti itu tidak boleh tumbuh dalam kehidupan di negeri yang majemuk seperti Indonesia. Justru yang harus dikembangkan ialah sikap rendah hati yang melihat kemungkinan kebenaran pada diri setiap orang. "Sikap rendah hati ini menjadi pedoman kita untuk memberikan respek terhadap pilihan apa pun yang dipilih oleh umat Islam dalam menjalani puasa ini," ungkapnya.

Bagi Sukidi, implikasi penting dari hadis Nabi di atas (iktilafu ummati rahmah) yaitu lahirnya sikap lapang dada, memberikan ruang toleransi selebar-lebarnya kepada siapa pun yang mengambil keputusan awal Ramadan, tanpa mencela sedikit pun keputusan tersebut. Sikap diri yang lapang tersebut, tegas Sukidi, merupakan penanda penting bahwa perbedaan yang dimiliki setiap warga bangsa Indonesia diikat oleh kesatuan yang membuatnya dapat berjalan beriringan. "Perbedaan ini harus kita maknai sebagai rahmat untuk memberikan penghormatan kepada satu sama lain, harus mengembangkan sikap yang lapang dada, dan harus menunjukkan sikap yang terbuka dan toleran," ulasnya. 

Kader Muhammadiyah itu mengungkapkan puasa yang kini tengah dijalani harus dimaknai sebagai pengalaman kemanusiaan. Perasaan menahan lapar dan dahaga harus mampu mengingatkan diri untuk ikut merasakan penderitaan orang lain. "Puasa ini harus menunjukkan etika kemanusiaan kepada sesama manusia, apa pun agama dan etnisnya, apa pun background-nya, kita harus menunjukkan kebaikan," tegasnya. 

Baca juga: Jadikan Ramadan Momentum untuk Bangkit Bersama dari Dampak Pandemi

Implikasi sosial puasa itulah yang harus dipahami segenap umat Islam di saentero negeri bahwa puasa harus mampu melahirkan empati dan menumbuhkan sikap belas kasih kepada sesama. "Hanya dengan merasakan itu," tutur Sukidi, "Kita menjadi pribadi yang memiliki empati, simpati, dan kepekaan kemanusiaan kepada mereka yang tidak seberuntung kita." (RO/OL-14)

BERITA TERKAIT