13 May 2021, 11:00 WIB

Merenungkan Kembali Makna Idul Fitri


Humaniora | Ramadan

Pendiri Pusat Studi Qur'an, Prof Quraish Shihab menyebutkan bahwa ada yang perlu diluruskan dalam menamai Idul Fitri sebagai hari kemenangan, Menurutnya ada ketidaksesuaian dalam pengartian. Pasalnya, arti dari kemenangan secara umum merupakan istilah yang diberikan kepada seseorang yang berhasil dalam persaingan. 

"Saya bertanya kemenangan terhadap siapa ini? Siapa yang Anda lawan sehingga mengumumkan bahwa Idul Fitri itu hari kemenangan? Menang melawan nafsu Anda? Menang melawan setan? Apa benar itu?" kata Prof Quraish dalam podcast miliknya yang diunggah Rabu (12/5) dilansir dari laman NU.

Baca juga: Tokoh Agama Riau Imbau Salat Id dan Takbiran di Rumah Saja

Menyebut Idul Fitri sebagai hari kemenangan, kata Prof Quraish, amatlah keliru jika selama ini penamaan tersebut merujuk dengan memahami lafad faizin yang berarti menang. Sebab, pada zaman Nabi pengucapannya berupa lafal Taqabbalallahu minna wa minkum. 

"Padahal perjuangan melawan nafsu, perjuangan melawan setan pertempuran itu berlanjut tidak ada hentinya kecuali setelah kita mati. Bisa jadi Anda menduga diri Anda menang padahal sebenarnya Anda sudah kalah, setan itu sangat pandai Alquran menyebutnya memperindah yang buruk," terang dia.

Terdapat beberapa tingkatan level setan untuk menganggu manusia. Bahkan, Rasululullah Muhammad SAW yang mendapat predikat maksum, kata Prof Quraish mengutip ayat dari surat al-Araf tak luput dari godaan setan sehingga meminta ia meminta pertolongan agar terhindar dari godaan setan kepada Allah. 

"Jadi kita belum menang ini, kita masih berjuang terus. Kenapa hari kemenangan? Kita belum menang," tuturnya. "Jangan pernah menduga Idul Fitri itu hari kemenangan karena kalau Anda mengatakan bahwa Idul Fitri hari kemenangan, kemenangan itu menjadikan Anda berleha-leha, menjadikan Anda merasa bangga," sambung mufasir lulusan Universitas Al-Azhar Kairo ini. 

Dia juga mengajak umat Islam untuk merenungkan kembali makna minal'aidzin wal faizin yang sebetulnya disampaikan oleh Rasulullah melalui sebuah doa berlafaz Taqabbalallahu minna wa minkum yang berarti menerima segala peribadahan pada bulan Ramadhan.

"Jadi Rasulullah itu mengajarkan kita berdoa semoga Allah menerima. Jangan pernah yakin bahwa amalan Anda sudah diterima oleh Allah. Kalau kita tidak yakin seperti itu kita jangan yakin bahwa menang," ujarnya.

Sebagaimana yang tertuang di Alquran bahwa setan itu mengalir bak darah di tubuh manusia tanpa terasa melalui perbuatan-perbuatan kecil yang tak nampak, seperti riya dan sum'ah. Maka Prof Quraish mengimbau agar senantiasa membentengi diri dengan tidak memuji diri secara berlebihan. 

Baca juga: INH Gelar Bukber di Kompleks Masjid Al-Aqsa Palestina

Ajaran Islam, kata Prof Quraish, adalah kebersamaan. Walaupun umat Isam shalat sendirian, namun diajarkan iyyaka na'budu wa iyyaka nasta'in bil jama, maknanya secara bersama. "Walaupun kita shalat munfarid (sendiri). Oleh sebab itu, dalam lafal Taqabbalallahu terdapat minna wa minkum bukan minni wa minka," terangnya. 

Sama halnya dengan lafal minal'aidzin wal faizin yang berupa doa, Prof Quraish menyebutkan bahwa ada sekitar 20 kali kata fauz (menang) diulangi dalam Alquran. Semuanya memiliki arti pengampunan dosa dan masuk ke dalam surga. Dari sini dapat dikatakan bahwa dari awal terdapat kesalahanpahaman masyarakat dalam mengartikan faizin dengan hari kemenangan. 

"Hanya sekali dalam Alquran ada kata fauz yang berbentuk saya itu afuzu dan itu diucapkan oleh orang munafik. Dia tidak terlibat dalam perang tiba-tiba kaum Muslimin menang membawa harta rampasan yang banyak. Terus dia katakan seandainya saya ikut orang Muslim berperan niscaya saya akan memperoleh fauz yang besar," jelas Prof Quraish. (H-3)

BERITA TERKAIT