07 May 2021, 05:00 WIB

Hari Akhir adalah Keniscayaan


Quraish Shihab |

Tafsir Al-Mishbah episode 25 ini masih membahas tentang surah At-Thagabun. Pada ayat 7-12 digambarkan mengenai siksa yang akan dirasakan kaum kafir dan keniscayaan akan hari akhir.

‘Orang-orang kafir mengira bahwa mereka tidak akan dibangkitkan. Katakanlah (Muhammad), “Tidak demikian, demi Tuhanku, kamu pasti dibangkitkan, kemudian diberitakan semua yang telah kamu kerjakan.” Dan yang demikian itu mudah bagi Allah.’

Ayat 7 menceritakan kaum kafir menyangka setelah mati mereka tidak akan dihidupkan lagi. Mereka selalu bertanya-tanya, apa benar Allah bisa menghidupkan kembali seseorang saat jasadnya sudah bercampur dengan tanah?

Allah menegaskan bahwa hari akhir adalah satu kenicayaan. Tidak ada alasan bagi Dirinya untuk tidak bisa melakukan sesuatu. Karena ketika Dia berucap ‘jadilah, maka jadilah’.

Maka dari itu, pada ayat selanjutnya Allah menyatakan manusia harus senantiasa beriman kepada Allah dan Rasul. Dan barangsiapa yang beriman, Allah akan memberikan cahaya kepadanya. Pada ayat berikutnya, Allah menjanjikan surga bagi manusia yang memiliki amalan baik. Keindahan yang digambarkan dalam Alquran dan hadis tentunya tidak seberapa dibandingkan dengan kenyataannya.

Sementara, orang-orang yang tidak berbuat baik dan tidak percaya akan kehadiran Allah akan mendapatkan ganjaran neraka.

Dalam ayat selanjutnya, terdapat kata kekal. Dalam konteks neraka, kekal itu merupakan waktu yang sangat lama, bukan selamanya. Karena menurut para ulama, rahmat Allah akan mengalahkan amarahnya. Karena sebagian dari penghuni neraka akan diangkat Allah ke surga. Dan neraka hanya menjadi tempat pembersihan dosa.

Pada ayat 11, Allah berfirman mengenai musibah yang sering kali dianggap keliru oleh manusia. ‘Tidak ada sesuatu musibah yang menimpa (seseorang), kecuali dengan izin Allah; dan barangsiapa beriman kepada Allah, niscaya Allah akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.’ Musibah biasanya dianggap sesuatu yang buruk, tapi sebenarnya tidak selalu.  

Allah tidak ingin menjatuhkan musibah kepada seseorang kecuali karena ulahnya sendiri. Atau dengan musibah tersebut Allah ingin memberinya imunisasi agar yang mendapatkan musibah memiliki kekebalan jiwa. Karena itu hendaklah percaya kepada Allah bahwa dia selalu menghendaki kebaikan untuk kita. Siapa yang percaya, Allah akan melapangkan hatinya.  (Ata/H-3)

 

BERITA TERKAIT