05 May 2021, 09:39 WIB

Kreasi Kue Kering nan Unik Sambut Lebaran


Ardi Teristi Hardi | Ramadan

PANDEMI covid-19 telah membuat pengusaha catering di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) berinovasi. Tidak hanya untuk meningkatkan cita rasa dan menarik minat pembeli, inovasi juga dilakukan untuk mengedukasi masyarakat agar senantiasa peduli terhadap bahaya covid-19.

Sebuah katering di Sleman, DIY, mempunyai cara unik mengedukasi soal covid-19 kepada masyarakat. Caranya, mereka membuat kue kering lebaran unik dengan aneka karakter, salah satunya orang memakai masker. Karakter tersebut dibuat tetap imut dan menarik agar konsumen juga suka.

Tenaga Ahli Katering Sari Dewi, Koki (Chef) Yuyun Nurwahyuni menceritakan kue kering karakter ini dimaksudkan untuk memberi kesegaran pada kue kering Lebaran.

Baca juga: Ini Upaya Antisipasi Peningkatan Kasus Aktif Pascalebaran

Pasalnya, pada masa pandemi ini, masyarakat perlu mendapat sesuatu yang baru bukan kue lebaran yang itu-itu saja.

"Kue kering dengan karakter yang memakai masker ini, selain enak dinikmati sekaligus untuk mengedukasi tentang covid-19," kata Yuyun saat ditemui di Katering Sari Dewi di Sleman, Selasa (4/5).

Semua karakter merupakan hasil diskusi dengan pemilik katering, yaitu Sari Dewi.

Ditemui di tempat yang sama, Sari Dewi menceritakan produksi kue kering memang biasa dikerjakan saat Ramadan. Kue kering berkarakter merupakan inovasi untuk menyiasati lesunya penjualan kue kering pada masa pandemi.

"Kami berinovasi menciptakan kue kering-kue kering yang sekiranya bisa lebih disukai oleh masyarakat," terang dia.

Tidak hanya orang memakai masker, karakter-karakter menarik lainnya yang bertema Lebaran juga dibuat, seperti anak perempuan berhijab, ketupat, bulan dan bintang, masjid, hingga buah nanas.

Karakter-karakter tersebut  dilukis dengan warna-warna cerah sehingga terlihat menarik.

Dengan adanya kue kering karakter, lanjut Sari Dewi, konsumen dapat membeli kue ini selain kue-kue kering yang biasa ada saat lebaran, seperti kastengel, nastar, lidah kucing, dan cookies.

Dengan kue karakter, orang akan lebih tertatik. Mereka tidak langsung memakannya, tetapi melihat dan menikmati dulu karakternya baru kemudian menyantapnya.

"Harga satu toples kue kering berkisar Rp60 ribu sampai Rp90 ribu tergantung permintaan jenis margarin dan jenis kue keringnya," terang dia.

Harga kue kering berkatakter relatif lebih mahal karena proses pembuatannya bisa sampai tiga kali.

Penjualan kue kering pada masa pandemi belum sebaik saat sebelum pandemi.

Jika sebelum pandemi, penjualan kue kering bisa mencapai 200 toples sehari, sedangkan saat ini bisa rata-rata mampu menjual 20 toples perhari.

Ia menduga, turunnya omset penjualan kue kering saat pandemi karena banyak yang bekerja dari rumah. Mereka kemudian berkreasi sendiri membuat kue kering di rumah.

Lewat daring

Perempuan yang memulai usaha katering sejak 1995 itu menyebut, pada masa pandemi, pihaknya juga lebih mengaktifkan pemasaran via daring, baik situs internet, Facebook, Instagram, maupun WhatsApp. Metode ini mampu menjaring pasar lebih luas.

"Hingga saat ini, pengiriman kue kering sudah sampai Jakarta hingga Surabaya," kata dia.

Ada juga pelanggan dari luar negeri, seperti Singapura  dan Malaysia, sering menghubunginya saat hendak mengadakan acara di Jogja.

Walaupun telah memperluas pasar, Sari Dewi mengaku omset katering pada masa pandemi ini masih jauh dibanding sebelum pandemi.

Pada masa awal pandemi, penurunan omset sampai 90%, termasuk saat Ramadan 2020.

Usaha kateringnya pun naik-turun mengikuti kebijakan pemerintah. Saat pengetatan aktivitas diberlakukan, omsetnya akan menurun. Namun, saat ada kebijakan pelongggaran aktivitas, omset kateringnya juga akan sedikit meningkat.

"Pada Desember 2020, omset kami sempat ke 40% (dibanding masa sebelum pandemi)," kata dia.

Namun, pada Januari 2021, omsetnya kembali turun seiring kebijakan pemerintah tentang Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat. Saat ini, produksi kateringnya baru mencapai 30% dari produksi sebelum masa pandemi. (OL-1)

BERITA TERKAIT