04 May 2021, 03:00 WIB

Memaknai Peringatan Diturunkannya Alquran


Syarief Oebaidillah | Ramadan

TERMAKTUB di QS Al-Baqarah ayat 185 bahwasanya pada saat Ramadan diturunkanlah Alquran sebagai petunjuk bagi manusia dan sebagai Al-Furqan atau pembeda.

"Kali ini saya tidak membahas Alquran dan kemukjizatannya, tapi lebih kepada dua kata dari acara untuk menyambut atau memperingati turunnya Alquran. Kedua kata itu adalah peringatan dan nuzuul," papar Ustaz Shamsi Ali, kemarin.

Menurut mantan Imam Masjid Kota New York Amerika ini, kedua kata tersebut penting untuk dibahas karena kerap ada kesalahpahaman di kalangan sebagian umat tentang kegiatan ini. Selain memang belum atau tidak menyadari makna Alquran sebagai 'objek yang diturunkan' (tanziil) juga sering kali kegiatan ini dituduh sebagai sesuatu yang baru dalam agama atau bidah dan karenanya diharamkan.

Saat memaknai kata peringatan, sesungguhnya itu sesuatu yang tidak saja boleh, tetapi juga bahkan penting. Berkaitan dengan peringatan itu, terdapat sebuah perintah dalam Alquran. 'Maka ingatkanlah karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang beriman'.

Tentu konteks peringatan di sini ialah mengingatkan kembali manusia tentang sebuah kenikmatan yang Allah karuniakan kepada mereka berupa Alquran. Sebuah kitab yang menjadi lentera hidup dan petunjuk jalan yang jelas di tengah gulita kehidupan yang membingungkan.

Salah satu sisi kelemahan manusia ialah lupa. Di antara makna manusia sebagai insaan ialah berasal dari kata nasiya-yansa-nasyaan. Dari kata itu terjadi ansaa-yunsii-insaan atau dijadikan lupa.

Kata insaan tentu secara historis kembali kepada ketika bapak dan ibu seluruh manusia, yakni Adam dan Hawa, dijadikan lupa oleh Iblis. Bahkan manusia sering kali dijadikan lupa oleh dirinya atau egonya sendiri. Itu terjadi ketika manusia lupa kepada penciptanya.

'Mereka lupa kepada Allah maka Allah jadikan mereka lupa pada diri mereka sendiri'. "Dalam konteks inilah manusia dalam perjalanan hidup tak lebih dari putaran zaman atau rotasi waktu, lupa kepada hal-hal mendasar. Salah satunya lupa akan petunjuk jalan hidup yang Allah telah berikan berupa Alquran," papar Shamsi Ali. Dalam konteks itu pula, peringatan turunnya Alquran menjadi penting untuk dilakukan.

 

Membumikan Alquran

Kata nuzuul ialah bentuk kata benda dari nazala-yanzilu yang berarti 'turun'. Ketika kata ini dihubungkan dengan Alquran, berarti 'turunnya Alquran'.

Kata nuzuul sesungguhnya bertujuan menekankan kembali bahwa dalam melihat Alquran ada dua sisi yang harus menjadi perhatian manusia.

Pertama, Alquran itu berasal dari langit (heaven) atau berasal dari Allah Yang Mahasuci. Bahkan Kalam Suci Yang Mahasuci.

Pada aspek ini segala hal yang mengganggu kesucian Alquran mengantar kepada 'pelanggaran iman' itu sendiri, termasuk meragukan kesahihan (authenticity) dan kesempurnannya. Allah menegaskan (Al-Baqarah: 2): "Inilah kitab yang tiada keraguan padanya."

Kedua, Alquran telah diturunkan (tanziil atau munazzal) kepada Nabi Muhammad SAW untuk manusia. Karena itu, Alquran itu telah hadir di bumi dan dalam realitas kehidupan manusia.

"Pada aspek inilah sesungguhnya makna membumikan Alquran sebagai kitab yang telah diturunkan kepada manusia harus dibumikan," tegas Shamsi Ali. Atau dengan kata lain, Alquran dengan kesuciannya itu jangan terus menggantung di langit tanpa pernah turun menjadi realitas kehidupan. (H-1)

BERITA TERKAIT