04 May 2021, 02:30 WIB

Antre Gurihnya Bubur Suro untuk Berbuka


MI | Ramadan

SUDAH bertahun-tahun, tradisi berbuka bersama dengan bubur suro di Masjid Al Mahmudiyah atau dikenal sebagai Masjid Suro dilaksanakan. Biasanya jemaah dan masyarakat sekitar memadati masjid untuk berbuka bersama menikmati bubur yang dimasak khas itu.

Namun, di masa pandemi ini pengurus masjid membagikan bubur khas itu kepada masyarakat sekitar, jemaah masjid, dan anak-anak yatim. "Bubur suro ini ialah makanan takjil khas saat Ramadan. Kalau sebelum-sebelumnya, berbuka puasanya di masjid dan selalu dipadati jemaah. Namun, pandemi ini makanan takjilnya kami sudah kemas dan dibagikan sebelum waktu berbuka kepada masyarakat sekitar dan jemaah. Kami mengutamakan protokol kesehatan sebab jika berbuka di masjid, akan berpotensi terjadi kerumunan," kata Sekretaris Masjid Suro, Muhammad Irsan.

Masjid yang berada di Jalan Ki Gede Ing Suro itu merupakan salah satu masjid tertua di Palembang. Bahkan tradisi bubur suro itu disebutkan sudah ada sejak 1834 dan bertahan hingga sekarang.

Bubur suro ialah penganan yang terbuat dari campuran 2 kilogram daging, rempah-rempah, dan beras. Pengolahannya sederhana, tetapi harus dilakukan dengan tepat.

"Setiap harinya kita memasak 5 kilogram beras yang dijadikan bubur. Biasanya mulai memasak pukul 13.30 hingga pukul 16.30 WIB. Masaknya sekitar 3 jam saja dan langsung dikemas dan dibagikan. Untuk seharinya, kita bisa bagikan sekitar 200 paket bubur suro," ucap Irsan.

Salah satu juru masak bubur suro, Mahmuddin, 71, mengatakan memasak bubur suro sama halnya memasak bubur biasanya, perlu kesabaran dan ketepatan waktu dalam menyiapkan bahan dan mengolahnya.

Sebelum dimasak, beras dicuci bersih. Kemudian itu direndam terlebih dahulu dulu sekitar 6 jam sebelum diolah. Tujuannya beras mengembang sehingga mudah dimasak.

Mahmuddin menjelaskan beras yang sudah direndam dimasak dalam wadah tembaga khusus berwarna kuning keemasan. Selama proses memasak, olahan bubur tersebut harus selalu diaduk agar tidak menggumpal dan bisa menjadi bubur yang sempurna.

Selain itu, dia dan rekannya menyiapkan 2 kilogram daging sapi yang sudah dicincang halus. Daging itu akan menjadi campuran dan menambah cita rasa aroma bubur menjadi kuat. Bukan hanya itu, ada rempah-rempah dan bumbu lain yang dipakai. Di antaranya, bawang merah, bawang putih, kayu manis, cengkih, buah pala, kecap asin, daun seledri, dan daun bawang.

Daging yang sudah dicincang beserta bumbu-bumbu tradisional dimasukkan ke bubur yang sudah dimasak tadi kemudian dimasak lagi sampai merata. "Kemudian setelah masak, barulah bubur disajikan dengan berbagai topping yang ada, seperti bawang goreng dan kerupuk," kata Mahmuddin.

Ia mengungkapkan bubur suro itu memiliki cita rasa gurih dan enak. Itu juga yang membuat masyarakat rela antre untuk mendapatkan bubur tersebut. (Dwi Apriani/H-1)

BERITA TERKAIT