03 May 2021, 13:21 WIB

Cerita Umat Muslim di Hong Kong Jalani Puasa di Tengah Pandemi


mediaindonesia.com | Ramadan

SEPERTI  halnya umat muslim di seluruh dunia, sebanyak 300.000 umat muslim di Hong Kong juga ikut merayakan bulan suci
Ramadhan.
  
Sebagai kota yang menghargai keragaman, Hong Kong memiliki banyak pilihan tempat makan dan toko halal bagi para wisatawan dan umat muslim lokal.
  
Hong Kong juga memiliki lima masjid besar yaitu Masjid Kowloon, Masjid Al Ammar, Masjid Jamie, Masjid Chai Wan dan Masjid Stanley dan sejumlah musola di berbagai tempat.
  
Umumnya, selama bulan Ramadan ini, seluruh aktivitas akan terpusat dimasjid, mulai dari berbuka puasa, salat berjamaah hingga saling berbagi kebutuhan di antara masyarakat setempat. 

Merunut pada Imam Besar Hong Kong, Muhammad Arshad, situasi Ramadan di Hong Kong terasa berbeda sejak Pandemi Covid-19 melanda tahun lalu.
  
Tahun 2020 lalu, masjid ditutup sekitar setengah bulan Ramadan. Setelahnya, masjid dibuka namun dengan menerapkan protokol kesehatan yang ketat, di mana para jamaah diwajibkan menjaga jarak, dan mengenakan masker selama shalat di masjid.
  
"Ramadhan tahun lalu dan tahun ini memang sangat berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Saat ini, kami masih melaksanakan shalat tarawih di dalam masjid, dengan protokol kesehatan yang ketat termasuk menjaga jarak," ujar Imam Besar Hong Kong, Muhammad Arshad, dikutip dari siaran resmi Hong Kong Tourism Board, Senin (3/5).

"Kami pun tidak lagi melakukan berbuka puasa di masjid di mana para jamaah akan membawa makanan dan minuman bukan hanya untuk berbuka puasa namun juga untuk dibagikan ke warga setempat," jelasnya.

"Sebelum pandemi melanda, di Masjid Raya Kowloon, setiap malamnya, shalat tarawih biasanya akan diikuti sekitar 1.500 sampai 2000 jamaah. Namun saat ini, kami hanya melaksanakannya bersama staf masjid," tutur Muhammad Arshad.
  
Pandemi juga memengaruhi restoran halal di Hong Kong dan mengubah strategi bisnis restoran selama Ramadan.
  
"Restauran adalah restoran China halal yang populer di kalangan Muslim; baik lokal maupun turis. Para pengunjung akan dimanjakan lidahnya dengan penganan khas masakan China halal, mulai dari mie daging sapi ala Shanghai, Sup Goulash Daging Sapi Muda, dan berbagai pilihan dimsum.
  
Sebelum pandemi melanda, para pelanggan harus memesan tempat terlebih dahulu sekaligus memesan makanan untuk berbuka puasa.
  
"Saat ini, dikarenakan adanya pembatasan pergerakan dan terkait dengan penerapan protokol kesehatan, kebanyakan orang merasa lebih aman untuk bersantap di rumah," ujar Ma, pemilik Ma Restaurant.

"Saat ini, kami mulai lebih fokus pada pengiriman menggunakan operator dan juga pengambilan sendiri oleh pelanggan, karena mereka merasa lebih nyaman saat makan di rumah mereka sendiri," tutur Ma.
  
Salah satu pelanggan Ma Restaurant adalah Imam Baihaqi, seorang warga negara Indonesia yang bekerja di Dompet Dhuafa Hong Kong. Menurut Imam, banyak cerita menarik terjadi selama puasa Hong Kong.(Ant/OL-09)
  
  

BERITA TERKAIT