30 April 2021, 05:00 WIB

Kisah Kaum Yahudi yang Dikecam Allah


Quraish Shihab | Ramadan

TAFSIR Al-Mishbah episode 19 membahas Surah Al-Jumuah ayat 5 - 8. Dalam ayat-ayat tersebut, diceritakan kisah kaum Yahudi. Permusuhan antara kaum Yahudi dan Muslim bermula saat kaum tersebut merasa iri karena Nabi yang muncul setelah Nabi Musa AS bukan berasal dari kaum Yahudi. Kemudian kebencian kaum Yahudi berkembang dari rasa iri ke hal lain seperti politik dan ekonomi. Hubungan kaum Yahudi yang tidak harmonis dengan Muslim bahkan berlangsung hingga saat ini.

Namun, dari segi keyakinan agama, orang Yahudi memiliki konsep yang lebih dekat dengan Muslim. Karena itu, perdebatan dengan Yahudi yang berlangsung hingga saat ini bukanlah masalah agama, melainkan politik. Perlu digarisbawahi pula bahwa tidak semua orang Yahudi memiliki sifat yang dibenci Allah. ‘Perumpamaan orang-orang yang dibebani tugas kepadanya Taurat, kemudian mereka tiada memikulnya ialah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal. Amatlah buruk perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah itu. Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang zalim.’

Kaum Yahudi diibaratkan seperti keledai yang merupakan lambang kebodohan, yakni orang yang diberikan tugas suci, tapi mengabaikannya. Allah menyatakan kaum Yahudi telah diberikan amanah untuk menyiarkan ajaran yang ada dalam Taurat. Namun, mereka malah banyak bertanya dan menuntut tentang ajaran tersebut, tapi tidak mau mengamalkan ajarannya. Hal tersebut tidak disukai oleh Allah. Karena itu, Allah menegaskan bahwa Dirinya tidak akan memberikan petunjuk bagi orang-orang tersebut.

Katakanlah, “Hai orang-orang yang menganut agama Yahudi, jika kamu mendakwakan bahwa sesungguhnya kamu sajalah kekasih Allah bukan manusia-manusia yang lain, maka harapkanlah kematianmu, jika kamu ialah orang-orang yang benar.”

Pada ayat 6, dijelaskan orang Yahudi mengira bahwa mereka dekat dengan Allah dan dicintai. Mereka meyakini kalau mereka berbuat dosa dan masuk neraka, maka itu hanya beberapa hari. Allah menegaskan hal tersebut ialah mustahil. Ia menyatakan bahwa perkiraan kaum Yahudi bahwa mereka dekat dengan Allah ialah salah dan bohong.

Namun, Allah menantang kaum Yahudi. Apabila mereka meyakini bahwa mereka akan masuk surga, maka mintalah kematian kepada Allah. Namun, kaum Yahudi menolak dan malah ingin hidup hingga seribu tahun. Dalam ayat selanjutnya Allah memberi peringatan agar kita mempersiapkan diri menghadapi kematian. Kita tidak pernah tahu berapa lama lagi kita hidup. Memang kita tidak bisa memperpanjang masa hidup kita. Namun, kita bisa memperlebar, memperdalam, dan mempertinggi hidup kita dengan melakukan interaksi yang baik terhadap diri sendiri, sesama, dan Allah SWT. (Ata/H-3)

BERITA TERKAIT