27 March 2021, 03:30 WIB

Menjaga Asupan Gizi Saat Puasa di Masa Pandemi


Bagus Pradana | Ramadan

TAK terasa sebentar lagi kita akan memasuki bulan Ramadan. Sama seperti tahun lalu, Ramadan tahun ini kemungkinan besar akan kita lewati di tengah pandemi. Memang bukan perkara mudah untuk menjalankan ibadah puasa di tengah situasi seperti ini, selain tubuh harus menahan lapar dan dahaga, kita juga diwajibkan untuk selalu menerapkan protokol kesehatan agar terhindar dari ancaman virus korona.

Berkaitan dengan puasa di masa pandemi, Ketua Yayasan Gema Sadar Gizi dr. Tirta Prawita Sari membagikan kiat-kiat untuk menjaga keterpenuhan gizi selama berpuasa dalam acara diskusi daring Gerakan Masyarakat Sadar Gizi yang bertajuk 'Tetap Sehat dan Beraktivitas di Bulan Puasa' Jumat (26/3).

Dalam paparannya, dr. Tirta mengungkapkan puasa sejak dulu memang dikenal sebagai terapi kedokteran kuno yang disebut intermitent fasting, terapi yang berfungsi sebagai detoksifikasi karena tubuh dilatih untuk menggunakan sumber energi cadangannya. Namun ketika berpuasa kita wajib menjaga pola konsumsi makanan dengan yang bergizi, terlebih di situasi pandemi ini.

"Saat berpuasa sebisa mungkin kita harus menjaga asupan gizi kita, apalagi di masa pandemi seperti ini, kita tidak boleh main-main dengan pemenuhan gizi pada tubuh kita agar daya tahan tubuh terjaga dan terhindar dari virus selama menjalankan ibadah puasa," papar dr.Tirta Prawita Sari.

Selama berpuasa, dr. Tirta juga menganjurkan untuk menghindari makanan-makanan yang menjadi pemicu inflamasi (peradangan) pada tubuh, seperti makanan yang banyak mengandung gula dan lemak.

"Kebiasaan jelek yang sering orang kita lakukan waktu berbuka puasa adalah makan gorengan dan jajan yang manis dan segar-segar, nah ini sebetulnya kebiasaan yang kurang sehat ya karena dapat memicu inflamasi. Di tengah pandemi seperti ini, sebisa mungkin kita hindari atau kurangi dulu kebiasaan tersebut," ujar dr. Tirta.

Baca juga: Saudi Larang Buka Puasa di Restoran dan Masjid saat Ramadan

Untuk berbuka, dr. Tirta lebih menyarankan untuk mengikuti anjuran Rasulullah yaitu berbuka dengan kurma dan buah-buahan untuk mengganti kebutuhan nutrisi tubuh yang hilang saat berpuasa daripada makanan-makanan yang mengandung banyak gula dan lemak jenuh.

dr. Tirta juga menyoroti kewajiban puasa bagi orang-orang yang menyandang status OTG (Orang Tanpa Gejala), ODP (Orang Dalam Pengawasan) dan PDP (Pasien Dalam Pengawasan). Menurutnya, bagi mereka yang sedang menyandang status tersebut baik OTG, ODP, maupun PDP bila ingin berpuasa maka tetap dapat menjalankan kewajiban puasa dengan syarat harus mengatur jeda konsumsi antivirus disesuaikan dengan waktu sahur dan berbuka dan tetap mendiskusikannya dengan dokter penanggung jawab.

"Saran saya tetap boleh puasa, nggak usah khawatir, itu kan antivirusnya dua kali ya diminumnya, jedanya kan 12 jam, jadi ya diatur aja tuh gimana caranya dia bisa diminum 2 kali, jadi minumnya pas sahur dan sesudah berbuka," jelas dr. Tirta.

Turut hadir pula dalam diskusi tersebut Komisioner Baznas Sulawesi Selatan dr. Khidri Alwy sebagai pemateri yang menyampaikan ulasan mengenai manfaat puasa dari sudut pandang agama.

Senada, dr. Khidri mengungkapkan dalam sudut pandang agama, puasa adalah syariat yang memang memiliki banyak manfaat kesehatan terutama yang berhubungan dengan gastrointestinal (sistem pencernaan). Saat kita diperintahkan untuk menjalankan ibadah puasa maka sebenarnya perintah tersebut datang dari Allah untuk mengistirahatkan perut kita.

"Bayangkan dalam satu tahun penuh pekerjaan perut yang dilakukan oleh kita itu adalah mencerna makan, maka jangan heran kalau kita dalam dunia kedokteran penyakit yang paling banyak di derita oleh manusia itu berhubungan dengan gastrointestinal. Ketika datang syariat puasa, itu sebenarnya adalah waktu untuk mengistirahatkan perut kita," rangkum dr. Khidri mengakhiri diskusi tersebut.(OL-5)

BERITA TERKAIT