14 November 2016, 07:27 WIB

Pelaku Teror Mantan Napi Teroris


Nicky Aulia Widadio |

PELAKU teror bom molotov di depan Gereja Oikumene, Samarinda, Kalimantan Timur, diduga ialah Juhandi alias Joh, 32, mantan narapidana kasus bom Puspitek Serpong dan bom buku di Jakarta pada 2011.

Menurut pengamat terorisme dari Universitas Indonesia Ridlwan Habib, kasus ini menambah daftar panjang kegagalan deradikalisasi. Program deradikalisasi yang dilakukan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), menurut dia, hanya bersifat seremonial.

"Tidak ada institusi yang secara spesifik ditugasi untuk memonitor pergerakan residivis yang telah bebas," kata Ridlwan saat dihubungi, tadi malam (Minggu, 13/11).

Idealnya, lanjut Ridlwan, perlu ada pendampingan orang per orang bagi residivis kasus terorisme. Namun, hal tersebut membutuhkan banyak biaya dan menyita energi. "Seminar dan ceramah saja tidak bisa mengubah hati dan pikiran residivis kembali ke jalan yang benar," tambahnya.

Kepala Biro Penerangan Umum Polri Brigjen Agus Rianto mengatakan Juhandi pernah menjalani hukuman pidana sejak tanggal 4 Mei 2011 berdasarkan putusan Pengadilan Negeri Jakarta Barat Nomor 25/Pidsus/2012/PNJKT.BAR tanggal 29 Februari 2012.

"Pelaku ditahan selama 3 tahun 6 bulan. Bebas bersyarat setelah mendapat remisi Idul Fitri tanggal 28 Juli 2014. Saat ini pelaku sudah diamankan di Polresta Samarinda," terang Agus.

Kepala Divisi Humas Polri Irjen Boy Rafli Amar mengatakan pelaku merupakan bagian dari kelompok Pepy Vernando. Setelah bebas, ia diketahui bergabung dengan Jamaah Ansharut Daulah (JAD).

Ia juga berkaitan dengan Kelompok Anshori yang saat ini disupervisi karena terindikasi akan membeli atau mendatangkan senjata api dari Filipina.

Perintah Presiden
Presiden Joko Widodo memerintahkan Kapolri Jenderal Tito Karnavian untuk mengusut tuntas kasus ledakan di depan Gereja Oikumene, Samarinda, Kalimantan Timur. Teror ini mengakibatkan empat anak balita luka-luka dan harus menjalani perawatan di RSUD Abdul Moeis Samarinda.

"Sudah saya perintahkan Kapolri untuk menangani, lakukan sebuah penegakan hukum yang tegas dan usut secara tuntas pelaku," ujar Presiden, kemarin.

Sebuah bom berdaya ledak rendah meledak di depan Gereja Oikumene, Jalan Dr Cipto Mangunkusumo, Samarinda, kemarin. Saat itu sekitar pukul 10.15 Wita ketika ibadah kedua baru saja berakhir dan anak-anak sekolah minggu menunggu orangtua mereka di halaman gereja.

"Ada lima korban, tetapi satu orang hanya menderita luka ringan dan sudah dipulangkan. Empat korban masih dirawat dan menurut keterangan tenaga medis, kondisi mereka mengalami luka bakar," ujar Kapolda Kaltim Irjen Safaruddin.

Bom diduga berasal dari sebuah tas yang dilempar pelaku. Setelah bom meledak, pelaku kabur ke arah Sungai Mahakam di seberang gereja, tetapi berhasil ditangkap warga sekitar.(Pol/Cah/SY/X-10)

BERITA TERKAIT