30 November 2022, 13:26 WIB

Indonesia Kalah dalam Gugatan Ekspor Nikel, Presiden: Kita Banding


Andhika Prasetyo |

Presiden Joko Widodo menegaskan bahwa Indonesia akan mengajukan banding atas keputusan Badan Penyelesaian Sengketa World Trade Organization (WTO).

Sebagaimana diketahui, lembaga tersebut menyatakan Indonesia kalah dalam gugatan larangan ekspor bijih nikel yang diajukan Uni Eropa.

"Sekali lagi, meskipun kita kalah di WTO, kita kalah dalam urusan nikel yang digugat Uni Eropa, tidak apa-apa. Saya sampaikan ke menteri, banding!" tegas Jokowi saat membuka Rapat Koordinasi Nasional Investasi 2022 di Jakarta, Rabu (30/11).

Ia pun memastikan bahwa keputusan WTO tidak membuat Indonesia ciut atau menghentikan upaya penguatan industri hilir. Justru itu akan menjadi pelecut untuk terus melanjutkan kebijakan yang sudah dimulai sejak 2020 silam.

"Nanti babak kedua, kita hilirisasi lagi bauksit. Artinya bahan mentah bauksit harus diolah di dalam negeri agar kita mendapatkan nilai tambah. Setelah itu, bahan-bahan yang lainnya, termasuk yang kecil-kecil seperti kopi. Itu jangan sampai diekspor dalam bentuk bahan mentah. Stop," sambung mantan wali kota Surakarta itu.

Pemerintah pun siap jika ke depan akan semakin banyak negara yang menggugat kebijakan penghentian ekspor raw material. Jokowi begitu memahami langkah yang diambil pihak-pihak luar karena upaya yang dilakukan Indonesia telah mematikan Industri di negara-negara lain.

"Kalau ada negara lain yg menggugat, ya itu hak mereka karena ya memang terganggu. Setelah saya cek, kenapa Uni Eropa menggugat, ya benar, karena industrinya ternyata banyak di sana. Kalau bahan mentah kita olah di Indonesia, di sana akan ada pengangguran. Di sana akan ada pabrik yang tutup, industri yang tutup," ucapnya.

Namun, Indonesia tidak perlu takut atau terlalu mengasihani negara-negara itu. Mereka menurut Jokowi, sudah terlalu banyak mengeruk keuntungan dari Tanah Air.

"Kita kan juga mau maju. Kita ingin menjadi negara maju. Kita ingin membuka lapangan kerja. Kalau kita digugat saja kita takut, mundur, ya tidak akan jadi negara maju," jelas Jokowi.

"Jadi kita terus. Kita tidak boleh berhenti. Tidak hanya berhenti di nikel, tapi terus yang lain."

Penghentian eskpor nikel mentah dalam dua tahun terakhir telah memberikan keuntungan besar bagi masyarakat dan negara.

Tujuh tahun silam, pada 2015, ekspor nikel yang didominasi bahan mentah hanya memberi nilai US$1,1 miliar.

Tahun lalu, ketika penjualan diwajibkan dalam bentuk jadi atau setengah jadi, nilai yang diraup melonjak sampai 19 kali lipat yakni US$20,9 miliar.

Perbaikan nilai ekspor tentu berimplikasi pada neraca perdagangan. Indonesia telah menikmati surplus neraca perdagangan selama 29 bulan. (OL-12)

BERITA TERKAIT