19 November 2022, 22:08 WIB

Iftitah : Muhammadiyah Menjadi Kekuatan Strategis Level Internasional


Widjajadi |

PERSYARIKATAN Muhammdiyah telah berumur persis 110 tahun pada 18 November, dan terus tumbuh berkembang menjadi kekuatan strategis bangsa di tingkat nasional dan internasional.

"Gerak kemajuan ini tentu menjadi agenda untuk bermuhasabah, berintrospeksi bagaimana dalam Milad 110 tahun, Muhamnadiyah bisa mengagregasikan kemajuan dan etos kemajuan yang sudah dimiliki, dan pada saat sama kita tahu kekurangan dan kelemahannya," ucap Ketua PP Muhammadiyah, Haedar Nashir saat berpidato iftitah di forum sidang pleno 2 muktamar Muhammdiyah yang berlangsung di Edutorium1 KH Ahmad Dahlan UMS, Sabtu (19/11).
 
Menurut dia, berbagai kemajuan yang dicapai ini, pasti menjadi ungkapan rasa    syukur dan sekaligus intospeksi Muhammadiyah. Terkait hal itulah, dalam pidato iftitah selama 20 menit itu, separuh waktu diantaranya dipergunakan Haedar    untuk menyampaikan 3 pertanyaan instrospektif bagi para peserta muktamar Muhammadiyah.

Haedar yang akan mengakhiri kepengurusan persyarikatan periode 2015 - 2022 ini menegaskan, bahwa pelaksanaan muktamar ke-48 yang berlangsung pada aaat Milad 110, yang jatuh pada saat sidang Tanwir, 18 November sebagai momen penting introspeksi.

Disampaikan Haedar Nashir, usia 110 tahun merupakan perjalanan panjang dan Muhammadiyah menjadi satu-satunya organisasi Islam tertua yang masih bertahan menjadi organisasi terbesar.

"Kesyukuran kita itu tentunya harus kita jadikan modal strategis kita melangkah ke depan menjadi lebih baik lagi, sehingga Muhammadiyah dalam mengembangkan misi dakwah dan tajdid menjadi kekuatan yang lebih berkualitas bahkan unggul dalam berbagai aspek kehidupan yang jadi bidang garap," ujar dia.

Haedar Nashir menegaskan, ada pertanyaan besar yaitu bagaimana spirit Muhammadiyah mengemban misi Waltakum mingkum ummatuy yad'na ilal-khairi wa ya`mur'ana bil-ma'rufi wa yan-hauna 'anil-mungkar sekaligus juga membangun khoiru ummah yang menjadi cita-cita Muhammadiyah, dapat diformulasikan untuk mewujudkan masyarkat Islam yang memberi rahmat semesta alam.

Lebih jauh dia ungkapkan,    sekarang Muhammadiyah menghadapi dinamiki baru dalam kehidupan manusia di tingkat global maupun dinamika internal dari wilayah, daerah cabang dan ranting yang memiliki kondisi beragam.

"Sehingga sejumlah pertanyaan sebagai wujud kita bermuhasabah dapat dimunculkan. Pertama, kita bisa bertanya apakah jamaah di ranting, kawasan masjid, mushala dan pengajian dan berbagai aktifitas keagamaan dan kemasyarakatan di masyarakat lingkungan Muhammadiyah masih tergarap dengan baik bahkan semakin baik atau mengalami stagnasi. Atau kita teralienasi dari dinamika yang terjadi," terang Ketua Umum PP Muhammadiyah berusia 64 tahun itu.
 
Menurut Haedar, pertanyaan tersebut penting untuk menjadi bahan renungan seluruh muktamirin agar bisa mengetahui kondisi yang dimiliki di tingkat basis akar rumput.
 
Pertanyaan kedua, bahwa pada Muktamar yang lalu, Muhammadiyah punya program bagus yaitu dakwah komunitas sebagai mata rantai dakwah kultural bahkan lebih ke belakang lagi satu mata rantai dari gerakan jamaah dan dakwah jamaah tahun 1968.   
 
"Pertanyaan kita apakah dakwah komunitas kita yang telah jadi keputusan muktamar itu betul betul jadi program terlaksana di tempat kita maisng-masing. Bahkan syukur kalau ada model dari kawasan ranting, cabang dan daerah serta kawasan yang memiliki best practice dari program gerakan jamaah dan dakwah jamaah," kata Haedar yang masuk Muhammadiyah sejak tahun 1983 itu.
 
Dia perlu menanyakan hal itu, karena ketika saat ini warga Muhammadiyah pergi ke daerah atau cabang-cabang masih suka mendengar, ada masjid tidak tergarap bahkan ada yang pindah tangan ke tempat pihak lain. Karena itu anggota Muhammadiyah perlu bertanya seberapa jauh dakwah komunitas itu berjalan.
 
Dua pertanyaan itu menurut pemilik keanggotaan nomor 545549 tersebut sudah cukup menjadi bahan refleksi bagi Muhammadiyah ditengah apa yang disebut sebagai dinamika kemajuan dan prestasi yang kita alami.
 
Haedar menyebut, Muhammadiyah sekarang diuji dalam konteks nasional dan global yang niscaya sudah hadir sebagai kekuatan strategis. Bahkan banyak diakui sebagai organisasi    gerakan modern terbesar, gerakan reformis terbesar, yang tidak hanya di Indonesia tapi juga di dunia.   

"Saya ingin highlight sedikit bahwa Muhammadiyah memang punya tradisi besar yang punya produkifitas sebagai organisasi yang sejak awal punya pondasi agama kokoh, sistem organisasi bagus, SDM waktu itu dianggap berkualitas dan lebih penting lagi peran-peran kemasyarakatan lewat amal usaha sudah jadi milik umum," kata Haedar Nashir.

Dalam kontek ini, Haedar Nashir melihat Muhammadiyah perlu menyelesaikan positioning yang dimiliki, bahwa sejatinya dalam tradisi besar itu, Muhammadiyah harus selesai dengan dirinya sendiri.   

"Ketika kita berinteraksi didalam dinamika lokal regional mestinya soal trust, marwah soal integritas, pondasi nilai keislaman dan kemuhamadiyah kita sudah selesai tidak ada lagi keraguan dan saling meragukan antar diri kita," sergah Haedar Nashir.

Hal ini bertujuan agar Muhammadiyah punya keleluasaan untuk membuka sebanyak dan seluas mungkin radius gerakan dalam dinamika lokal regional dan lobal ditengah dinamika gerakan lain yang saat bertumbuh pesat dengan berbagai segmen dan orientasi gerakan. (OL-13)
 
 
 

BERITA TERKAIT