12 November 2022, 11:30 WIB

Jelang Muktamar ke-48, Muhammadiyah Siapkan Program, Menjawab Tantangan 5 Tahun Mendatang


Widjajadi |

SATU dari lima dari agenda pokok yang dibahas dalam Muktamar ke-48 Muhammadiyah di Surakarta, Jawa Tengah, ialah menyiapkan program untuk menjawab tantangan zaman dalam 5 tahun ke depan.
 
"Sebagai organisasi yang mengusung tema berkemajuan, Muhammadiyah mesti menyiapkan program untuk menjawab tantangan zaman dalam lima tahun ke depan," terang Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir secara daring dalam acara media gathering di Gedung Siti Walidah UMS, Jumat (11/11) malam.
 
Menurut dia, solusi dari prediksi tantangan di masa depan adalah bagaimana memperkuat peran amal usaha sebagai benteng mewujudkan kemasalahatan.
 
Ke depan, lanjutnya, Muhammadiyah akan lebih memperkuat amal usaha sebagai modal basis membangun keunggulan bangsa. Bangsa besar dengan segala keragaman, yang harus berpacu agar setara dan unggul.   
 
"Ini agenda terbesar yang kadang suka tertutupi oleh isu-isu yang temporal," tandasnya, saat menguraikan secara detil lima agenda utama yang menjadi bahasan muktamar ke-48.
 
Menurut dia, agenda pokok lain yang akan dibahas adalah    Laporan PP Muhammadiyah 2015-2022, yang memotret berbagai pekerjaan yang telah dilakukan Persyarikatan dalam satu periode.  Pelaporan ini sangat penting untuk menunjukkan bahwa Muhammadiyah selama ini bekerja serius mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya.

 
Islam berkemajuan


Begitu halnya pembahasan Risalah Islam Berkemajuan yang merupakan agenda ketiga, bahwa Muhammadiyah memiliki keyakinan bahwa Islam yang sesungguhnya adalah agama yang mendorong kemajuan.
 
"Karena itu ia harus menjadi kekuatan aktual yang menggerakkan memeluknya untuk memberi kesaksian atas keunggulan agama Islam," tambahnya.
 
Haedar menegaskan, berkemajuan berarti menciptakan kedamaian, keadilan dan membangun peradaban utama.
 
Selama ini, imbuhnya, Muhammadiyah sudah mempopulerkan istilah berkemajuan, yang berarti tidak hanya    memberikan perdamaian dan toleransi. "Tapi pada saat sama, Islam yang membawa kemajuan peradaban."

Sementara dalam agenda keempat, muktamar akan membahas isu-isu strategis yang menjadi problem nyata, dan saat ini sedang dihadapi dalam konteks bangsa bahkan dunia. Di antarnaya isu membangun kesalehan digital.
 
Haedar menekankan Muhammadiyah telah menyusun panduan keagamaan dan moral membangun kesalehan digital di berbagai institusi dan lingkungan sosial masyarakat luas.
 
Dia memberikan ilustrasi tentang kesalehan digital di tengah era 4.0 yang membawa perubahan luar biasa. "Boleh saja generasi muda saat ini telah menguasai teknologi, namun jangan kemudian menjadi generasi yang hilang karena pijakan nilainya tercerabut."
 
Harapannya, jangan sampai tercerabut, sehingga kemungkinannya mereka bisa  menemukan nilai alternatif lain, yang tidak bertentangan dengan nilai-nilai keislaman.
 
Agenda terakhir dari muktamar ke-48 yang rencananya akan dibuka Presiden Jokowi di Stadion Manahan adalah pemilihan Ketua Umum PP Muhammadiyah.   
 
"Sistem pemilihan kepemimpinan di Muhammadiyah-Aisyiyah, berjenjang, dan merupakan salah satu cara pemilihan yang demokratis. Sebanyak 3.000 pemilih merupakan representasi di Muhammadiyah, dan menjadikan pemilih cerdas dan tersistem," tandasnya. (N-2)

 

BERITA TERKAIT