05 August 2022, 16:29 WIB

Wapres: Ekstremisme dan Islamophobia Bisa Diatasi Melalui Literasi


Emir Chairullah |

PEMERINTAH ingin mendorong agar minat baca masyarakat mengenai dunia Islam terus meningkat. Menurut Wakil Presiden Ma’ruf Amin, dirinya optimistis pemikiran ekstrem maupun Islamophobia bisa dikikis apabila pengetahuan tentang Islam dari berbagai sudut lebih dikuasai.

“Kita ingin membangun generasi yang memahami ajaran Islam secara utuh dan benar dengan pemikiran yang tidak ekstrem dan tidak islamophobia,” katanya usai menghadiri Islamic Book Fair 2002 di Jakarta, hari ini.

Baca juga: Komnas HAM akan Selidiki Kepemilikan Senjata yang Digunakan Bharada E

Ma’ruf meyakini pemikiran tentang Islam yang berlebihan dan Islamophobia bisa tercerahkan melalui buku-buku yang disebar ini, “Kalau dua-duanya (kaum ekstremis dan Islamophobia) tercerahkan, akan tercipta suasana Islam yang wasathiyah (seimbang),” ujarnya.

Oleh karena itu, Ma’ruf berharap agar acara Islamic Book Fair 2022 ini bisa menyajikan pandangan-pandangan para ulama yang berpikiran moderat yang memberikan warna kehidupan masyarakat Indonesia . “Sehingga dapat menggambarkan bahwa peradaban Islam dan kemanusiaan khususnya di Indonesia,” ujarnya.

Ma’ruf juga mengajak agar pengembangan Islam yang wasathiyah dibangun sinergi antara pemerintah MUI, Muhammadiyah, NU, dan ormas lain. Pemerintah pun juga mengajak MUI untuk membangun pusat dakwah untuk melakukan gerakan yang lebih masif untuk menyebarkan ajaran Islam yang moderat. “Jadi semua lebih terorganisir termasuk juga untuk melakukan kontraradikalisme,” pungkasnya.

Sebelumnya, Anggota Eksekutif Majelis Hukama Al-Muslimin Muhammad Zainul Majdi (Tuan Guru Bajang) menyampaikan bahwa diskusi panel kali ini salah satunya bertujuan untuk menjawab tantangan islamophobia.

“Melawan islamophobia tidak cukup hanya dengan narasi dan kata-kata tetapi dengan contoh yang nyata dari sejarah bagaimana peradaban Islam mampu memanusiakan umat manusia,” tegasnya. 

Selain itu, salah satu tokoh pendiri Majelis Hukama Al-Muslimin Quraish Shihab dalam sambutannya menjelaskan mengenai hakikat peradaban Islam. Menurutnya, siapapun dan dari agama manapun seorang manusia apabila dia berhasil menciptakan suatu karya yang memberi manfaat untuk manusia baik jasmani dan rohani, maka hasil karyanya itu adalah bagian dari peradaban Islam.

“Karena peradaban Islam menekankan pada sisi manusia, maka dia sangat terbuka. Siapapun yang mencetuskan (karya) baik muslim maupun tidak muslim, selama itu hikmah, selama itu bermanfaat, maka itu adalah peradaban Islam,” terangnya. (OL-4)

BERITA TERKAIT