17 June 2022, 15:47 WIB

Jokowi Minta Kartu Prakerja Terus Dievaluasi


Indriyani Astuti |

PRESIDEN Joko Widodo (Jokowi) mengapresiasi program kartu prakerja yang telah berjalan selama dua tahun. Program tersebut menurutnya telah meningkatkan produktivitas peserta melalui pelatihan-pelatihan yang diberikan. Meski demikian, presiden meminta program itu terus dievaluasi.

"Data Badan Pusat Statistik (BPS) 88,9% penerima mengaku program kartu prakerja meningkatkan keterampilan. Ini yang harus saya mengapresiasi kita harapkan terus dievaluasi, dikoreksi, diperbaiki, masukan-masukan saya rasa harus diterima," ujar Jokowi saat menghadiri 'Silaturahmi Alumni Kartu Prakerja' yang digelar di Sentul International Convention Center (SICC), Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Jumat (17/6). Turut hadir Menteri Keuangan Sri Mulyani dan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto.

Jokowi menyampaikan, program prakerja bisa berjalan meskipun Indonesia tengah dilanda krisis pandemi Covid-19. Program itu, ujar presiden, dimulai pada 11 April 2020. Sedangkan pandemi Covid-19 telah melanda Indonesia pada 2 Maret 2020. Saat itu, ujar Jokowi, pemerintah menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), kemudian dilanjutkan dengan Penerapan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM). Namun, imbuh Jokowi, program prakerja dapat menjangkau jutaan penerima manfaat.

Dari 115 juta pendaftar, terangnya terdapat 84 juta orang terverifikasi dan yang dinyatakan diterima berjumlah 12,8 juta.

Baca juga: Kebijakan Jokowi Dinilai Pulihkan Ekonomi dan Tingkatkan Kesejahreraan Rakyat

"Besar sekali ini angka yang tidak kecil. Produktivitasnya meningkat, pengalaman kerjanya karena pelatihan ini menjadi meningkat. Apa bisa cara-cara ini kita lakukan tanpa menggunakan platform digital, enggak mungkin. Iya ndak? Bener ndak? Dan platform yang dibangun tidak ada yang lewat uang itu, anggaran itu ke kementerian, ke provinsi, ke kabupaten, ke peserta. Ini langsung Menteri Keuangan transfer ke peserta," ucapnya.

Platform digital seperti itu, ujar Jokowi, hanya bisa dihasilkan oleh anak-anak muda. Hal itu membuatnya optimis bahwa Indonesia punya sumber daya manusia untuk bangkit dari krisis. Pada kesempatan itu, presiden menyampaikan situasi dunia yang tengah dilanda inflasi.

"Situasi di dunia bukan situasi yang gampang, semua negara mengalami kenaikan inflasi. Semua negara mengalami kenaikan harga pangan, kenaikan harga BBM (bahan bakar minyak) sehingga saya titip. Kita semuanya harus produktif. Oleh sebab itu upscalling, rescalling sangat penting sekali bagi negara kita," pinta presiden.

Menurutnya sumber daya manusia menjadi kunci pembangunan. Sumber daya alam yang melimpah, ujarnya, tidak berarti tanpa pengelolaan oleh sumber daya manusia yang terampil. (OL-4)

BERITA TERKAIT