07 May 2022, 20:31 WIB

Prabowo Petarung yang Ditakuti Oligarki


Mediaindonesia.com |

KETUA Umum Gerindra Prabowo Subianto diyakini akan mendapatkan tantangan besar dari kaum oligarki ketika maju dalam Pilpres 2024.

Pengamat politik sekaligus Dosen Fisip Universitas Jayabaya, Jakarta, Igor Dirgantara menjelaskan, langkah penjegalan habis-habisan sosok Prabowo karena tidak mau dikontrol oleh kaum oligarki. 

"Prabowo itu justru sosok yang paling tidak disukai oleh oligarki. Bahkan Prabowo malah selalu di jegal oleh oligarki," ujar Igor, Sabtu (7/5).

Munculnya sosok baru yang sudah langsung ingin masuk bursa pencapresan pun menurut Igor, adalah strategi yang dimainkan untuk mengadang Prabowo pada Pilpres 2024.

"Munculnya calon-calon yang sekarang di karbitkan dan tidak memiliki basis yang kuat, justru merupakan makanan empuk bagi oligarki. Mereka pastinya relatif akan manut karena relatif tidak punya kapasitas dan bargaining yang kuat," terangnya. 

Igor menambahkan, walaupun pernah menelan kekalahan dalam Pilpres 2014 dan 2019,  Prabowo Subianto bukanlah seorang pecundang jika maju lagi pada pemilu 2024.

"Dia justru bermental seorang petarung sejati yang masih percaya diri dengan kapabilitasnya," ungkapnya. 

Peluang Prabowo dalam kontestasi Pilpres 2024 pun menurut Igor, sangat memungkinkan dengan hasil kinerja yang ditunjukannya ketika menjadi Menteri Pertahanan bersama dengan Presiden Jokowi yang pernah beberapa kali menjadi rival dalam Pilpres. 

"Fakta bahwa yang bisa mengalahkan Prabowo itu cuma Jokowi. Bukan kandidat yang lain. Publik itu sudah jenuh dengan pencitraan. Saat ini, kinerja yang dapat dijadikan tolak ukur penilaian apakah seorang tokoh itu memang pantas untuk maju dalam perhelatan pemilu, bukan alasan yang lainnya," terangnya. 

Langkah Prabowo yang beberapa waktu lalu melakukan safari Idul Fitri ke beberapa tokoh, menurut Igor, adalah menjadi obat untuk para pendukung Prabowo yang sempat merasa kecewa. 

Pasalnya, realitas menunjukkan bahwa pada kontestasi pemilu semua kandidat yang maju tetap akan didukung oleh komunitas muslim. 

Bahkan Jokowi maju di Pilpres 2019 juga dengan strategi menggandeng tokoh NU, Ma’ruf Amin. Pengalaman dari pilpres menunjukkan bahwa komunitas pemilih muslim tidak pernah terkonsentrasi pada satu pasangan kandidat saja, tetapi pada semua pasangan calon. 

Bahkan pendukung Jokowi yang masih cukup besar juga berpeluang pilihannya bermigrasi kepada Prabowo.

"Kecewa itu lumrah, tetapi pasti ada obatnya. Safari lebaran Prabowo ke Jawa Timur  dan Jawa Tengah adalah salah satu  awal dari obatnya. Seperti melihat gelas setengah kosong. Yang negatif thinking akan memandang setengah kosongnya. Tetapi yang positif akan bersyukur karena terisi air setengah penuhnya," pungkasnya. (OL-8)

BERITA TERKAIT