17 April 2022, 17:07 WIB

Mahasiswa S1 STIK-PTIK Angkatan 79 Beri Solusi Atasi Kebocoran Data Pribadi


RO/Micom | Politik dan Hukum

ZAMAN digital seperti sekarang ini,  semuanya serba mudah. Namun ancamannya pun sangat besar terkait rawannya kebocoran data pribadi warga. 

Tak ingin masalah ini berlarut-larut,  Mahasiswa S1 Sekolah Tinggi Ilmu Kepolisian-Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (STIK-PTIK) menghadirkan solusi untuk memberi masukan dan mendorong pengesahan RUU Perlindungan Data Pribadi. 

Solusi dari Mahasiswa STIK-PTIK Angkatan 79 akan dimatangkan dalam seminar bertajuk “Strategi Perlindungan Data Pribadi: Perspektif Kepolisian Kontemporer”.  Seminar berlangsung di Kampus PTIK, Jakarta Selatan, Selasa (19/4) dan diikuti peserta secara offline dan online.

Untuk mematangkan solusi perlindungan data pribadi, mahasiswa PTIK Angkatan 79 menghadirkan  narasumber kaliber internasional: Justin Jin-Hyuk Choi dari Korea Selatan. Jin Hyuk adalah profesor cyber crime dan criminal investigation dari Korean National Police University (KNPU). 

Narasumber lainnya adalah CEO Xecure IT Gildas Deograt Lumy, Kadiv TIK Polri Irjen Slamet Uliandi, Ditjen Aptika Kemenkominfo Samuel Abrijani Pangerapan, Chairman APJII Muhammad Arif Angga, dan mahasiswa PTIK Angkatan 79 Jauhar R Sumirat. 

Adapun sebagai keynote speaker adalah Menkumham RI Yasonna Laoly.

Ketua panitia seminar Pinilih Waluyo Jati mengungkapkan pandemi covid-19 dengan aturan pembatasan fisik membuat era digital mengalami akselerasi secara luar biasa.  Semua orang mau tidak mau berbondong-bondong menggunakan perangkat digital.

Akselerasi digital berdampak positif. Meskti tak bisa melakukan pertemuan langsung secara fisik seperti sebelumnya, berkat perangkat digital orang tetap bisa saling terhubung secara riil time.

Namun era digital juga menghadirkan celah ancaman besar. Era digital mengharuskan siapapun mengirimkan data-data pribadi agar bisa menjalankan perangkat digitalnya. 

“Ini masalahnya. Ada celah data pribadi bocor dan disalahgunakan pihak-pihak tak bertanggung jawab,” kata Pinilih.

Kebocoran data pribadi, tegas Pinilih, bukan sekadar isapan jempol. Pinilih mencontohkan bocornya data puluhan juta pelanggan salah satu online shop terbesar di Indonesia ke publik. 

Bukan hanya data masyarakat umum, data personel Polri juga pernah diretas oleh hacker asal Brazil. Hal itu diklaim akun twitter @son1x777 yang mengungkapkan ada 28.000 data pribadi personel Polri yang berhasil diretas.

Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) mencatat selama masa pandemi serangan terhadap data di sektor keuangan dan perbankkan mencapai 189.937 kasus. Sedangkan sebelum masa pandemi hanya 39.330 kasus (tahun 2019). 

“Banyaknya kebocoran data pribadi semakin menegaskan kebutuhan akan intervensi dari pemerintah,” kata Pinilih.

Indonesia sendiri saat ini belum memiliki regulasi khusus tentang keamanan data pribadi di dunia maya. 

Peraturan perundang-undangan dan peraturan teknis yang membahas mengenai data pribadi hingga saat ini masih terpisah-pisah dan saling tumpang tindih satu sama lain. 

“Indonesia memerlukan aturan khusus yang lebih sederhana yang dapat mengakomodasi segala aturan perlindungan data pribadi dari berbagai sektor, yaitu UU Perlindungan Data Pribadi,” tegas Pinilih. (J-1) 

BERITA TERKAIT