08 April 2022, 23:26 WIB

Belajar Toleransi dari Desa Siru, Ketika Toleransi Bukan Sekedar Kata-Kata 


Tri Subarkah |

PENGHAYATAN nilai toleransi perlu dipupuk sejak kecil. Hal tersebut diyakini akan menciptakan kerukunan umat beragama. Pengalaman itu sudah terbukti di Desa Siru, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. 

Meski berpenduduk mayoritas muslim, anak-anak di Desa Siru bisa bermain dengan guyub tanpa memandang agama. Kepala Desa Siru Sumardi menceritakan, anak-anak di desanya bisa bermain dengan bebas di rumah temannya yang berbeda agama. 

"Pada saat tertentu kita beri pencerahan, pendidikan agama ke anak kita, tapi kita juga beri kebebasan bergaul tanpa memandang agama. Kebetulan tetangga saya ada yang anaknya Katolik. Itu sesuatu yang lumrah," ujarnya dalam acara Journalist on Duty Media Indonesia bertajuk 'Toleransi Bukan Hanya Kata Tapi Perbuatan', Jumat (8/4). 

Sumardi yang juga menjabat sebagai Ketua Yayasan Al Amin Siru Manggarai Barat itu menyebut penduduk Katolik di desanya berjumlah sekitar 8 persen. Kendati demikian, masyarakat Desa Siru memiliki adagium, "Ikatan keluarga jauh lebih kuat dari ikatan ideologis." 

Oleh sebab itu, sebagai Kepala Desa, Sumardi tidak membeda-bedakan warganya berdasarkan keyakinan. Dalam pembagian bantuan langsung tunai (BLT) Dana Desa, misalnya, ia menyebut tidak melihat faktor agama Islam maupun Katolik. 

"Kalau masyarakat kita ayomi, kita lakukan secara turun temurun di Desa Siru," kata Sumardi. 

Baca juga : Kekuatan Dialog Antarkan RUU TPKS Disahkan Menjadi Undang-Undang

Imam Katolik Keuskupan Agung Semarang Aloysius Budi Purnomo menjelaskan pengalaman kecilnya hidup di Wonogiri juga telah memupuk nilai toleransi sampai saat ini. Saat masih anak-anak, Budi mengaku kerap berkeliling membangunkan warga untuk sahur di bulan Ramadan. 

Di Hari Raya Idulfitri, Budi menjelaskan silaturahmi ke tetangganya yang muslim sebagai hal yang lumrah. Bahkan, ia juga turut sungkeman kepada tangga muslimnya yang lebih tua. 

"Dari kecil tereksplorasikan, menjadi sesuatu yang institusional," jelas Budi. 

Sikap itu terbawa sampai Budi ditunjuk menjadi romo. Ia menyebut saat Idulfitri meminta uskup untuk bersilaturahmi ke Masjid Agung, pejabat beragama Islam, dan pondok pesantren. 

"Dari pagi jam 5 sudah berangkat, sampai rumah jam 7 malam. Pengalaman toleransi konkret melalui silahturahmi," tandasnya. (OL-7)

BERITA TERKAIT