26 January 2022, 22:10 WIB

Pilpres 2024 Momentum Orang Sunda Membangun Kekuatan Politik


Bayu Anggoro | Politik dan Hukum


PERNYATAAN anggota DPR RI, Arteria Dahlan, yang meminta kajati
yang berbahasa Sunda saat rapat agar dicopot menjadi momentum bagi suku
Sunda untuk bersatu. Tidak hanya dalam melawan narasi-narasi rasis
khususnya yang menyinggung kesukuan, juga untuk memunculkan putra daerah dalam kepemimpinan nasional.

Hal ini menjadi benang merah dalam diskusi bertajuk Saya Sunda, Saya
Indonesia
yang diselenggarakan Injabar Universitas Padjajaran Bandung.

Ajang tukar gagasan dan pikiran ini dihadiri sejumlah tokoh, seperti Ketua Umum Paguyuban Pasundan, Didi Turmudzi; Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil, Otje Djundjunan (Ceu Popong), Tjetje Padmadinata, serta sejumlah akademisi dan budayawan seperti Keri Lestari, Asep Warlan, Karim Suryadi, Noeri Ispandji, Taufiqurrahman, dan Andri Kantaprawira.

Ketua Paguyuban Pasundan, Didi Turmudzi, mengatakan, pernyataan Arteria
Dahlan terkait bahasa Sunda menjadi momentum untuk menyatukan orang
Sunda. Salah satunya dalam menciptakan kesatuan politik untuk mengusung
putra daerah dalam kepemimpinan nasional.

"Pak Otto Iskandardinata sejak 1931 mengajak seluruh masyarakat Indonesia tentang pentingnya ada kesatuan politik. Pak Otto ini Ketua Paguyuban Pasundan," katanya.

Namun, dia menilai sejak dahulu juga tokoh asal Sunda tidak pernah
mendapat dukungan untuk menjadi pemimpin nasional. "Orang Sunda sering
dikempesan (digembosi). Dulu Otto Iskandardinata, sudah disurvei
sebagai yang layak jadi presiden. Lalu ada Ali Sadikin. Disurvei paling
pantas. Dari dua contoh itu, ada gambaran bagi kita," katanya.

Oleh karena itu, dia mengajak seluruh orang Sunda untuk bersatu dalam
meraih tujuan bersama, yang salah satunya melahirkan putra daerah sebagai pemimpin nasional.

Terlebih, menurutnya suku Sunda memiliki jumlah yang sangat besar, sehingga berpotensi untuk melahirkan pimpinan nasional.

"Kita saat ini merasakan krisis ikatan solidaritas suku kebangsaan.
Makanya, sekarang kita harus mulai kompak, bersatu," katanya.

Didi menambahkan, keinginan kelompok suku tertentu agar memiliki
pemimpin nasional yang berasal dari suku yang sama merupakan suatu
kewajaran. "Tentu, siapa orangnya yang tidak menginginkan pemimpin yang
berasal dari lemburnya (kampung halamannya)," ujar Didi.

Meski tak secara gamblang, Didi pun menyebut Ridwan Kamil sebagai
representasi Jawa Barat yang identik dengan suku Sunda. "Kehadiran Kang
Emil saat ini tentu menjadi simbol Jawa Barat. Jadi kualitas itu memang
harus kita bangun. Kebersamaan harus kita bangun," katanya.

 

Representasi


Akademisi Universitas Pendidikan Indonesia Bandung, Karim Suryadi,
menilai, Sunda tidak memiliki representasi yang cukup di tingkat
nasional. Padahal, jumlah penduduk dan luas wilayahnya merupakan salah
satu yang terbesar.

"Ada kebutuhan yang tidak bisa kita hindarkan dan tutupi. Kita lemah
dari sisi representasi politik. Ada data tentang kepemimpinan dari
berbagai aspek. Orang Sunda sedikit," katanya.

Padahal, lanjut dia, keterwakilan di tingkat nasional sangat diperlukan
terutama agar pembangunan dan kebutuhan masyarakat lainnya dapat
terpenuhi. Oleh karena itu, ini menjadi tantangan bagi orang
Sunda dalam menghadapi Pemilu Presiden 2024.

"Maka siapkah kita menghadirkan kesundaan itu dalam kepemimpinan
nasional? Kita punya tekad yang sama, kemauan yang sama, menghadirkan
representasi kesundaan. Agar tidak terulang dalam (jabatan) wapres,
BPUPKI, dan jumlah pahlawan nasional dari Sunda yang sangat sedikit,"
katanya.

Akademisi Universitas Katolik Parahyangan Bandung, Asep Warlan Yusuf,
meminta warga Sunda tidak hanya reaktif dan bersatu saat merasakan
ketersinggungan seperti yang dilakukan Arteria Dahlan.

Menurutnya,  persatuan itupun harus ditunjukkan dalam momentum Pemilihan Presiden 2024 agar melahirkan pemimpin dari tatar Pasundan.

"Ada cubitan dari ucapan Arteria Dahlan. Ini harus jadi momentum. Harus ada tindak lanjut, agar bisa melipatgandakan kebaikan, membuat hal lebih konkret yang lebih terasa. Misal dalam kepemimpinan nasional," katanya.

Disebut-sebut sebagai sosok Sunda yang layak menjadi pemimpin nasional
saat ini, Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil menjawab dengan tegas. "Kalau tebuka panggungnya, bismillah wani (berani mencalonkan). Kalau tidak, ya tidak apa-apa," katanya.

Emil pun mengingatkan orang Sunda akan pentingnya menyepakati nama yang
layak untuk diusung sebagai pemimpin nasional, lalu bersama-sama
mendukung saat pemilihan umum digelar.

"Mari kita kompak. pamuntangan (sosok yang diandalkan) di hari ini akan menjadi pamuntangan di masa depan," katanya. (N-2)

BERITA TERKAIT