15 January 2022, 17:53 WIB

Generasi Muda Partai Golkar Minta Airlangga Tak Alergi Kritik


Cahya Mulyana |

GENERASI Muda Partai Golkar (GMPG) memberikan kritik terhadap ketua umumnya Airlangga Hartarto. Termasuk juga menyoroti elektabilitas Airlangga yang masih rendah untuk menjadi capres di Pilpres 2024.

Menanggapi hal tersebut, Wakil Ketua Umum Partai Golkar Melchias Markus Mekeng mengatakan yang disampaikan oleh GMPG adalah bagian dari kritik yang membangun bagi Airlangga Hartarto dan partai berlogo pohon beringin ini.

"Memang di Golkar ini Partai yang sangat terbuka, dan ini kritik yang menurut hemat saya juga jangan kita lihat dari sisi negatif. Justru ini pesta demokrasi masih dua tahun lagi kita harus lihat dari sisi positifnya untuk bisa memperbaiki performa dari Partai Golkar ini," ujar Mekeng, Jakarta, Sabtu (15/1).

Mekeng menyarankan agar ketua umumnya Airlangga Hartarto memanggil dan mengundang GMPG untuk melakukan dialog agar bisa bersama-sama mencari solusi mengenai permasalahan yang terjadi.

"Ajak dialog dengan kepala dingin. Jangan setiap kritik dihadapi dengan jawaban-jawaban sinis seolah-olah tidak mau dikritik. Sebagai seorang pemimpin dia (Airlangga Hartarto) harus bisa mendengarkan apapun komentar dari kadernya," katanya.

"Kalau perlu Pak Airlangga libatkan mereka (GMPG-Red) agar mereka bisa memperbaiki sendiri kritik-kritik yang mereka sampaikan," tambahnya.

Menurut Anggota Komisi XI DPR RI ini, ketua umumnya Airlangga Hartarto untuk bisa menjadi seoarang negarawan yang mengambil sisi positif dari setiap kritikan yang ada.

"Jadi harus belajar menjadi seorang negarawan. Negawaran itu kupingnya tidak tipis, justru mengambil dari sisi positifnya karena mereka juga kader-kader Partai Golkar. Saya tahu mereka dari dulu aktif di kepengurusan dan organisasi di kepemudaan Golkar. Tentunya ini mereka lakukan karena cinta kasih mereka terhadap Partai Golkar," ungkapnya.

Karena itu, Mekeng berharap kritikan yang disampaikan oleh GMPG bisa menjadi evaluasi ke depan. Jangan setiap orang-orang yang mengkritik malah disingkirkan.

"Jadi jangan semua orang yang mengkritik langsung dibumihanguskan, nanti lama-lama partai ini kosong enggak ada orangnya. Jangan dengar orang-orang sekitarnya Pak Airlangga yang hanya mau cari muka asal bapak senang terus langsung dihanguskan orang yang mengkritik. Itu tidak boleh," tuturnya.

Mekeng menyarankan kepada ketua umumnya Airlangga Hartarto agar melihat kritikan ini dari dua sisi positif dan negatifnya. Airlangga mesti menjadi seoarang negawaran.

"Karena biasanya itu penyakitnya ini para orang-orang di sampingnya ini yang anti kritik, yang selalu asal bapak senang, seorang negarawan harus dengar segala macam kritik dan saran," imbuhnya.

Sebelumnya, Inisiator GMPG ?Sirajuddin Abdul Wahab menyoroti tentang rendahnya elektabilitas ketua umumnya Airlangga Hartarto sebagai calon presiden (capres) di Pilpres 2024 mendatang.

Sirajuddin mengatakan elektabilitas Airlangga Hartarto sangatlah memprihatinkan. Hal ini merujuk dari data survei Voxpol Center yang menyebutkan Airlangga Hartarto hanya mendapatkan 0,8%. Sementara di Indikator Politik Indonesia sebesar 0,2%.

"Selain elektabilitas yang defisit, hal ini diperparah dengan elektabilitas ketua umum yang diusung menjadi capres yang memprihatinkan dan memalukan," ujar Sirajuddin.

Karena itu, Sirajuddin menuturkan, buruknya elektabilitas Airlangga Hartarto ini berdampak secara sistematik dan epistemik terhadap citra Partai Golkar.

Padahal struktur partai dan anggota DPR dari Golkar sudah menebar baliho terhadap Airlangga. Namun tidak memberi dampak signifikan, hal ini dapat dianggap bahwa masyarakat tidak tergerak memberikan dukungan.

Bahkan menurut Sirajuddin, Airlangga juga belum berhasil membawa perubahan signifikan terhadap perolehan suara Partai Golkar di 2019 lalu.

Karena di Pemilu 2019 hanya sebesar 12,31% (85 kursi) mengalami penurunan dibandingkan dengan Pemilu 2014 dengan perolehan 14,75 persen (91 kursi) dan Pemilu 2009 sebesar 14,45% (107 kursi). (Cah/OL-09)

BERITA TERKAIT