02 December 2021, 17:20 WIB

PKN Merasa Bukan Ancaman bagi Partai Demokrat


Sri Utami | Politik dan Hukum

KEHADIRAN Partai Kebangkitan Nusantara (PKN) diklaim bertujuan membangun gagasan kebangsaan tentang nasionalisme berbasis kenusantaraan. Ketua Umum PKN I Gede Pasek Suardika menekankan partainya tidak ada latar belakang yang berurusan dengan partai tertentu.

"Kami hadir tidak untuk urusan parpol tertentu. Kami hadir untuk membangun gagasan kebangsaan tentang nasionalisme berbasiskan kenusantaraan. Nasionalisme yang khas dan asli ibu Pertiwi Indonesia.
PKN hadir juga bukan untuk ancaman siapa pun tetapi untuk menjadi mitra dalam bersama membangun bangsa dan negara," jelas Pasek yang pernah menjabat ketua DPP Partai Demokrat.

Saat dihubungi, Kamis (2/12), Pasek yang sebelumnya hengkang dari Partai Hanura itu mengutarakan fokus partainya saat ini untuk dapat berlaga di  Pemilihan Umum (Pemilu) 2024. Walau waktu yang tersisa cukup pendek di mata patai baru, pihaknya tetap optimistis.

Pasek menekankan apabila ada kader Partai Demokrat atau Partai Hanura yang bergabung ke PKN, hal itu jangan dipandang sebagai ancaman.  PKN diisukan akan menampung sejumlah eks kader Demokrat, termasuk mantan Ketua Umum DPP Partai Demokrat Anas Urbaningrum yang akan bebas dari bui tahun depan.

"Tidak usah ada yang merasa khawatir, termasuk Partai Demokrat. Kami tahu suara Demokrat 7%-8% saat ini tidak akan terganggu. Karena jika ada eks Demokrat bergabung mereka adalah yang berperan nyata saat Demokrat mencapai 21% dulu. Begitu juga yang eks Hanura dan dari partai lainnya. Mereka bergabung karena ingin menajamkan nasionalisme kenusantaraan yang makin ditinggalkan," papar Pasek.

Sementara itu, Kepala Badan Komunikasi Strategis/Koordinator Juru Bicara DPP Partai Demokrat Herzaky Mahendra Putra mengatakan Demokrat memilih fokus berkoalisi dengan rakyat, membantu rakyat terdampak pandemi, memerjuangkan harapan dan aspirasi rakyat yang seringkali terabaikan ataupun tidak terjangkau oleh pemerintah. Perjuangan ini dilakukan baik di parlemen, ruang publik, maupun dengan langsung turun membantu masyarakat yang kesulitan.

"Konsistensi kebersamaan Demokrat dengan rakyat ini pun membuahkan hasil. Tren elektabilitas Partai Demokrat dalam satu setengah tahun terakhir ini terus meningkat, berdasarkan data dari survei yang dilakukan berbagai lembaga survei nasional. Apresiasi dan atensi masyarakat kepada Partai Demokrat pun terus meningkat," tutur Herzaky.

Konsolidasi internal yang dipimpin Ketua Umum Agus Harimurti Yudoyono, dikatakan Herzaky, berjalan baik dan hampir tuntas. Keberadaan partai politik baru sangat diyakininya tidak akan menggerus pemilih Partai Demokrat.

"Karena meskipun ada parpol yang pendirinya mantan tokoh di partai kami, para pendukungnya memang sudah sejak lama meninggalkan partai ini. Jadi, analisis yang menganggap suara kami akan tergerus oleh pendirian parpol baru yang dilakukan mantan kader-kader kami di masa lalu, sepertinya kurang tepat. Mereka memang sudah lama tidak di Demokrat. Gerbongnya pun sudah lama pergi," tegasnya.

Di sisi lain Direktur Eksekutif Indonesia Political Opinion (IPO) Dedi Kurnia Syah Putra menilai PKN membutuhkan tokoh yang menonjol untuk bisa mendongkrak eksistensi partainya. Meskipun memiliki eks tokoh penting Demokrat, hal itu tidak berpengaruh signifikan.

"Bisa saja berpengaruh, tetapi tidak signifikan karena PKN belum terlihat punya kemampuan menjanjikan lolos di Pemilu 2024, sekaligus menawarkan nuansa baru yang lebih baik dari Demokrat," ungkapnya.

PKN dari sisi elite, termasuk ketua umumnya, menurut Dedi, tidak punya pengaruh kuat di Partai Demokrat. PKN justru berpeluang membawa gerbong dari Hanura.

"Satu sisi sama-sama partai tidak dominan, sementara Demokrat dengan kondisi hari ini, terlalu sayang ditinggalkan, kecuali ada tawaran pragmatis," kata Dedi.

Isu lainnya yang cukup mengkhawatirkan jika ada yang mengaitkan secara langsung dengan Anas Urbaningrum, akan semakin menyulitkan manuver PKN karena identitas Anas yang tersangkut korupsi. Dengan demikian selain membutuhkan waktu yang cukup panjang perlu ada tokoh utama yang benar-benar miliki pengaruh.

"Hampir semua parpol yang berhasil masuk ke pemilu dan mendapat suara cukup baik, mereka punya tokoh utama yang menonjol," tandasnya.  (P-2)

BERITA TERKAIT