16 November 2021, 07:25 WIB

Pengamat: Fitnah/Hoaks Buktikan Ketidakmampuan Mengkritik


Muhamad Fauzi |

PENGAMAT Komunikasi dari Universitas Indonesia Fatimah Ibtisam menilai banyaknya hoaks dan fitnah yang menimpa sejumlah tokoh menjadi cermin ketidakdewasaan dalam berpolitik. Baik pihak yang menyebar dan mempercayai serangan hoaks, membuktikan seberapa berkualitas tingkat kematangan intelektual dan emosional. 

Tisam mencontohkan serangan yang kerap menimpa sejumlah tokoh, seperti Presiden Jokowi hingga sejumlah menterinya yang bersifat personal. Yang teranyar, Erick Thohir yang diserang dengan fitnah, terutama yang berkaitan dengan keluarganya.

Menurut Tisam, praktik hoaks yang menimpa Menteri BUMN Erick Thohir itu sebagai bagian dari usaha untuk merusak karakter sang menteri. Dia memandang, serangan fitnah yang bersifat personal menunjukkan kegagalan untuk mencari celah untuk mengkritisi sang menteri dari sisi objektif.

"Oleh karenanya kemudian kerap muncul serangan fitnah yang sifatnya personal. Mengambil jalan pintas yang cepat untuk menjatuhkan yakni dengan informasi yang direkayasa. Di sisi lain mengangkat isu personal seperti ini kontraproduktif dan tidak bermanfaat. Mengaburkan isu dan kritik yang semestinya diangkat, seperti bagaimana upaya penguatan BUMN," ujar Tisam, dalam keterangnya yang dikutip pada Selasa (16/11)  

Sepekan terakhir, Erick Thohir memang diserang sejumlah serangan hoaks. Mulai dari tudingan soal PCR, deklarasi capres, hingga serangan fitnah yang menyasar kepada keluarganya. Bahkan Erick difitnah soal asal usul keluarga dan agamanya. Tisam menilai serangan fitnah itu membuktikan adanya pihak yang memancing di air keruh.

Baca Juga: Kejagung Eksaminasi Tuntutan 1 Tahun Kasus Istri Omeli Suami Pemabuk

Tisam mengatakan, sulit dilepaskan kenyataan bahwa serangan itu terkait dengan posisi Erick sekarang ini sebagai salah satu menteri di pos strategis. Sebab, kata Tisam, sebelum duduk di pemerintahan Erick relatif tidak pernah diserang isu negatif. Ini membuktikan adanya pihak yang kepentingannya terganggu.

"Memang makin tinggi pohon semakin kencang pula angin yang menerpa. Mungkin, posisi sebagai menteri membuat banyak orang yang kepentingannya terganggu menyerang balik. Salah satu bentuknya adalah fitnah," ujar Tisam.

Tisam mengajak masyarakat untuk cerdas dalam menyaring informasi. Menurutnya, kritik adalah hal yang diperlukan oleh pejabat publik. Namun serangan fitnah atau hoaks, menurut dia, adalah hal yang tidak dapat diterima dan dibenarkan dalam konteks apapun. "Fitnah dan hoaks apalagi menyasar ke keluarga dan orang tua dari sang pejabat, adalah tindakan yang tidak manusiawi," ujar Tisam. 

Tisam memandang, pola serangan ke Erick adalah pola lama yang kerap menimpa sejumlah tokoh dan pejabat. "Sebenarnya fitnah semacam ini bukan hal baru, kerap menimpa tokoh penting atau pemimpin. Jika diamati narasi hoaksnya pun mirip. Sehingga sebenarnya cukup mudah bagi masyarakat untuk menilai mana yang kritik dan yang mana serangan personal berupa hoaks. (OL-13)

Baca Juga: Tidak Hadiri Mediasi, Haris Azhar Siap Hadapi Luhut di Meja Hijau

BERITA TERKAIT