05 November 2021, 16:15 WIB

Isue Komtemporer Dibahas dalam Kongres Pemuda Asia Afrika


mediaindonesia.com | Politik dan Hukum

KETUA Ketua Panitia Kongres Pemuda Asia Afrika  2021 (Asian African Youth Government 2021) Respiratori Saddam Al-Jihad mengungkapkan, pertemuan generasi muda dari Asia dan Afrika pada 16-19 Desember 2021 di Bandung akan membicarakan berbagai persoalan kontemporer yang dihadapi oleh negara-negara baik di Asia maupun di Afrika.

“Kita hari ini, di era 4.0 dan memasuki society 5.0, diperhadapkan pada kompleksitas problematika seperti krisis kemanusian, pendidikan yang tidak merata, kemiskinan dan kelaparan yang masih merajalela, dan konflik atau perang masih saja terjadi di beberapa titik, apalagi ditambah dengan wabah Covid-19 yang luar biasa dampaknya. Itu penting dan mendesak untuk diselesaikan,” ujar Saddam Al Jihad, dalam keterangannya, Jum’at (5/11).

Dalam pergelaran Kongres Pemuda Asia Afrika ini diharapkan pemuda harus hadir dan menjadi pemecah masalah di negaranya maupun di negara lain karena hari ini apa yang terjadi di satu negara bisa berdampak ke negara lain atau dunia internasional, misalnya konflik Israel versus Palestina, perang saudara di Suriah dan Afganistan, serta konflik Rohingya di Myanmar dan Uighur di China.

“Sangat disayangkan, hari ini masih saja terjadi konflik di beberapa negara di kawasan Asia dan Afrika yang tentunya berujung pada krisis kemanusian, bahkan hukum humanitarian internasional seringkali tidak diindahkan dan terlebih lagi terdapat sejumlah negara luar yang melakukan intervensi atas nama kemanusiaan tetapi malah memperkeruh keadaan untuk mencapai kepentingannya,” ungkpanya.

“Kita sebagai Pemuda Asia Afrika mesti bersatu dan memegang teguh semangat lahirnya Organisasi Asia Afrika 76 tahun silam dengan menjunjung tinggi kemanusian atau hak dasar manusia, kedaulatan, integritas, persamaan hak semua suku dan bangsa serta asas kebersamaan. Kita, para pemuda, harus menjadi duta perdamaian, dan itu harus menjadi gerakan yang massif agar tercipta perdamaian di Asia Afrika,” tegasnya.

Mahasiswa PhD Universitas Nankai, China ini juga mengkhwatirkan di tengah sejumlah negara maju, banyak negara yang dirundung kemisikinan dan kelaparan, dan itu merajalela baik di Asia maupun di Afrika karena kelaparan tertinggi ada di benua Asia dan negara-negara termiskin ada di Afrika, ditambah lagi dengan kasus Covid-19 yang memperparah masalah tersebut.

“Perikemanusian kita diuji dengan kemiskinan dan kelaparan yang melanda negara-negara Asia Afrika. Bayangkan saja kelaparan tertinggi ada di Asia dan Afrika, bahkan yang paling tinggi ternyata berada di Asia sekitar 418 juta orang kelaparan berdasarkan laporan State of Food Security and Nutrition in the World 2021 oleh FAO. Dan 10 negara termiskin ada di Afrika. Hal ini semakin parah dengan masih berlangsungnya wabah Covid-19,” katanya.

“Krisis pendidikan juga merundung sejumlah negara di Asia dan Afrika, bayangkan ada sekitar 358 juta anak-anak dan remaja sepenuhnya dikecualikan dari pendidikan, 17 persen representasi dari semua anak usia sekolah di dunia. Mayoritas diantara mereka ada di Asia Selatan, Asia Tengah dan kawasan sub-Sahara Afrika.  Krisis pendidikan meningkat dengan adanya Covid-19, bahkan di Indonesia juga mengalami,” imbuhnya.

Selain itu, saddam melanjutkan bahwa selain persoalan-persoalan diatas masih ada beberapa sejumlah isu strategis yang memerlukan peran pemuda yang akan dibahas nantinya di Kongres Asia Afrika 2021. Ia menyebut program SDG’s (Sustainable Development Goals) yang terdiri 17 poin yang menjadi kesepakatan negara-negara di dunia, dan tidak sedikit negara di Asia dan Afrika menjadikan SDG’s sebagai landasan dalam pembangun seperti dalam RPJM Indonesia 2020-2024.

Terakhir, Ketua Panitia Kongres Pemuda Asia Afrika ini menjelaskan akan ada komisi-komisi yang membahas terkait persoalan HAM, Kesetaraan Pendidikan, Kemanusiaan, Lingkungan, Kedaulatan Politik dan Kedaulatan Ekonomi antar negara-negara Asia Afrika, Mencermati persoalan Politik Kawasan, dan terpenting adalah menegaskan untuk mengingatkan Negara-Negara tidak melakukan intervensi atas negara lainnya seperti halnya dalam Poin Dasasila Bandung saat Konferensi Asia Afrika 1955.

Sehingga kedepannya Asian African Youth Government diharapkan akan menjadi organisasi yang bukan hanya bergerak secara volunteer tapi melakukan agenda strategis bersama organisasi global lainnya.  AAYG juga diharapkan dapat berkontribusi dalam stabilitas kawasan Asia Afrika secara khusus dan dunia pada umumnya baik stabilitas ekonomi, sosial, Politik, dan kebudayaan. Selain itu juga dapat berkontribusi dalam pemerataan pendidikan bagi pemuda di Asia dan Afrika. (OL-13)

Baca Juga: DPR Tidak Akan Tanyakan Harta Andika yang Mencapai Rp179 Miliar

BERITA TERKAIT