21 October 2021, 16:10 WIB

Zulhas Sebut JK Lontarkan Autokritik soal Perekonomian Umat


Putra Ananda | Politik dan Hukum

KETUA Umum Partai Amanat Nasional (PAN) Zulkifli Hasan (Zulhas) menyebut bahwa pernyataan mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla terkait kondisi ekonomi umat merupakan sebuah autokritik atau kritik terhadap umat Islam. Setiap pihak perlu menyikapi kritik yang disampaikan JK sebagai kritik yang membangun.

“Kita menyikapinya harus sebagai otokritik. Memang sensitif dan bisa memicu kecemburuan, tetapi kalau diubah jadi energi positif, kecemburuan itu penting untuk memulai persaingan. Umat Islam harus bangkit.” Kata Zulhas di sela-sela pidato yang disampaikannya dalam Rapat Konsolidasi Eksekutif DPW dan DPD PAN se-Sumatra Utara di Medan, Kamis (21/10).

Zulhas menekankan kunci kemajuan ekonomi umat adalah membangun ilmu pengetahuan dan keterampilan. “Tadi saya diajak ke Istana Maimun, lalu shalat zuhur di Masjid Raya Al-Mashun. Saya kira ini peninggalan Kesultanan Deli yang luar bisa. Indah dan megah pada zamannya. Tapi menurut saya ada yang kurang, harusnya dibangun juga kampus, universitas, itu kunci kemajuan.”

Zulhas berpesan kepada seluruh kader PAN untuk ikut terlibat membangun ilmu pengetahuan dan keterampilan. “Kita harus belajar dari sejarah. Jangan hanya bangun istana, bangun masjid, tempat ibadah, tapi juga bangun kampus, universitas, pusat-pusat pendidikan. Itu penting sekali. Saya kira ini jawaban untuk kegelisahan Pak JK dan lainnya itu. Pak JK sendiri juga sudah lakukan, beliau yang ikut menginisiasi berdirinya Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII).” ujar Zulhas.

Baru-baru ini beredar pernyataan kontroversial dari mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla tentang ketimpangan ekonomi umat Islam. Pernyataan itu disampaikan JK dalam acara Tabligh Akbar Maulid Nabi Muhammad SAW yang digelar di Masjid Istiqlal secara virtual (20/10). 

“Saya bilang, dari seluruh kegiatan kita di Indonesia ini cuma satu yang kekurangan kita, ialah kemajuan di bidang perekonomian umat. Lihat saja kalau ada 10 orang kaya di Indonesia paling tinggi 1 yang muslim, yang lainnya nonmuslim. Kalau ada 100 orang miskin, saya kira 90% yang miskin itu umat Islam,” cetus JK.

Pernyataan JK dianggap sebagian kalangan menyoal sesuatu yang sensitif karena bisa memicu konflik. Sosiolog dan budayawan Muhammad Sobary menilai pernyataan itu bisa menimbulkan kecemburuan.  "Ini urusan faktual, tetapi dalam politik, yang faktual itu bisa juga berisi kecemburuan,” ujar Sobary. (P-2)

BERITA TERKAIT