28 September 2021, 09:50 WIB

Soal Benda Bersejarah di Museum Darma Bhakti Kostrad, Letjen Dudung Beri Jawaban


Hilda Julaika | Politik dan Hukum

PANGLIMA Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Pangkostrad) Letjen Dudung Abdurachman mengatakan bahwa sejumlah barang terkait Presiden Soeharto saat menjabat Pangkostrad dan terkait peristiwa G30S/PKI masih tersimpan di Museum Darma Bhakti Kostrad.

Hal ini untuk merespons pernyataan mantan Panglima TNI, Jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo bahwa pihaknya mencoba melupakan sejarah dengan menghilangkan patung-patung tokoh nasional, termasuk Soeharto dari museum.

"Foto-foto peristiwa serta barang-barang milik Panglima Kostrad Mayjen TNI Soeharto saat peristiwa 1965 itu masih tersimpan dengan baik di Museum tersebut," kata Dudung kepada wartawan, Selasa (28/9).

"Hal ini sebagai pembelajaran agar bangsa ini tidak melupakan peristiwa pemberontakan PKI," tambahnya.

Lebih lanjut dijelaskan, hanya patung diorama Presiden Soeharto, Komandan Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD) Kolonel Sarwo Edhie Wibowo dan Menteri/Panglima TNI Angkatan Darat Jenderal AH Nasution yang diangkut dari ruangan tersebut.

Hal itu dilakukan atas permintaan Pangkostrad ke-34, Letjen TNI (Purn) Azym Yusri Nasution sekaligus pembuat patung tersebut. Dudung mengatakan bahwa Azym merasa berdosa karena telah membuat patung tersebut berdasarkan keyakinan agamanya.

"Saya hargai alasan pribadi Letjen TNI (Purn) AY Nasution, yang merasa berdosa membuat patung-patung tersebut menurut keyakinan agamanya. Jadi, saya tidak bisa menolak permintaan yang bersangkutan," ungkapnya.

Dalam keterangan resmi yang diterbitkan oleh Pusat Penerangan Kostrad, disebutkan bahwa pertemuan antara Dudung dengan Azmyn yang meminta pembongkaran patung-patung itu dilakukan pada 30 Agustus 2021 lalu.

Kostrad pun secara institusi membantah bahwa pihaknya yang memiliki inisiatif untuk menghilangkan patung tokoh nasional bersejarah tersebut.

"Saya dan Letjen TNI (Purn) AY Nasution mempunyai komitmen yang sama tidak akan melupakan peristiwa terbunuhnya para jenderal senior TNI AD dan perwira pertama Kapten Piere Tendean dalam peristiwa itu," ujarnya.

Sebelumnya, Gatot Nurmantyo menyatakan bahwa paham PKI tengah menyusup ke militer Indonesia saat ini. Hal tersebut terlihat dari penghilangan patung tokoh G30S/PKI di Markas Kostrad.

Gatot, dalam sebuah webinar secara daring yang digelar pada Minggu (26/9) kemarin mengatakan bahwa indikasi tersebut tidak dapat dibiarkan karena dapat mengulang sejarah kelam tahun 65.

"Saya mengetuk hati para patriotisme kstaria prajurit AD, AL, AU untuk bahu membahu mawas diri membersihkan jangan sampai paham ini bisa masuk yang akan meruntuhkan nilai-nilai perjuangan patriotisme," ucap Gatot. (Hld/OL-09)

BERITA TERKAIT