24 September 2021, 19:29 WIB

Begini Kronologi Penyergapan Pimpinan MIT Ali Kalora


Hilda JUlaika | Politik dan Hukum

SATUAN Tugas Madago Raya telah menembak mati pimpinan kelompok teroris Mujahidin Indonesia Timur (MIT) Ali Kalora beserta pengawalnya, Jaka Ramadhan alias Ikrima. Pelumpuhan teroris di Poso ini lewat kontak tembak yang terjadi pada Sabtu (18/9) lalu. 

Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri mengungkapkan kronologi dan kebiasaan Ali Kalora yang membuat dirinya akhirnya disergap dan ditembak oleh aparat.

"Dari hasil pendalaman ditemukan bahwa Ali Kalora seringkali turun dan meminta untuk disediakan kebutuhan logistik kepada warga," ujar Kabag Banops Densus 88 Kombes Aswin Siregar kepada wartawan, Jumat (24/9).

Lebih lanjut dijelaskan, pendalaman terhadap Ali Kalora telah dilakukan Densus sejak awal September 2021. Tim Densus telah melakukan pemetaan di sepanjang wilayah Poso Pesisir Selatan, Poso Pesisir Utara, sampai wilayah Parigi. 

Kemudian, pada tanggal 18 September 2021, tim berhasil mendeteksi Ali Kalora bersama Jaka Ramadhan yang akan menjemput sebuah barang yang telah dipesan sebelumnya. Saat Ali Kalora dan anak buahnya menjemput barang tersebut, pada waktu itulah tim menyergap dan menembak mati keduanya. 

"Pada tanggal 18 September 2021, Ali Kalora dan Ikrima menjumpai seseorang untuk menjemput barang yang telah dipesan. Selanjutnya, tim melakukan penyergapan sehingga keduanya tertembak dan mati di tempat," jelas Aswin.

Baca juga : Polisi akan Lakukan Prarekonstruksi Kasus Penganiayaan Napoleon ke Kece

Seperti diketahui, Ali Kalora tewas saat baku tembak dengan Satgas Madago Raya di Desa Astina, Kecamatan Torue, Kabupaten Parimo, Sulteng. Peristiwa tersebut terjadi pada Sabtu (18/9) petang.

Dalam baku tembak tersebut, Satgas Madago Raya juga menembak satu anggota MIT bernama Jaka Ramadhan.

Sementara itu, Polri meminta empat orang yang masuk Daftar Pencarian Orang (DPO) kelompok teroris MIT untuk menyerahkan diri. Polisi memastikan akan menjamin keselamatan mereka, dengan memfasilitasi dan menjalin komunikasi jika keempatnya menyerahkan diri.

"Kita imbau kepada empat DPO ini sebisa mungkin lebih baik menyerahkan diri. Dengan demikian, keselamatan mereka terjamin sampai proses hukum," kata Kombes Didik, Selasa (21/9).

Keempat DPO teroris MIT itu adalah Askar alias Jaid alias Pak Guru, Nae alias Galuh alias Muklas, Suhardin alias Hasan Pranata, dan Ahmad Gazali alias Ahmad Panjang. 

Saat ini Satgas Madago Raya masih terus mengejar keempat buron tersebut. Aparat gabungan TNI-Polri mengejar para teroris tersebut ke tiga daerah yakni Poso, Parigi Moutong (Parimo), dan Sigi. (OL-7)

BERITA TERKAIT