21 September 2021, 16:15 WIB

Hakim Kasus ASABRI: Jangan Asal Ngomong tanpa Mikir


Tri Subarkah | Politik dan Hukum

HAKIM ketua perkara dugaan megakorupsi di PT Asuransi Sosial Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ASABRI), IG Eko Purwanto naik pitam karena keterangan seorang saksi yang berubah. Hal itu terjadi saat terdakwa Hari Setianto yang merupakan mantan Direktur Investasi dan Keuangan ASABRI memberikan tanggapan atas kesaksian mantan Kepala Bidang Obligasi dan Reksadana ASABRI, Hery Wahyuni.

Dalam tanggapannya, Hari berpendapat bahwa pengajuan reksadana dari manajer investasi (MI) kepada ASABRI dilengkapi dengan prospektus dan hasil analisis. Sebagaimana tertuang dalam formulir subscription yang dikirimkan kepada direksi ASABRI. Tanggapan Hari mematahkan kesaksian Hery sebelumnya.

"Di dalam subscription form yang dikirimkan kepada direksi, itu dilengkapi dengan prospektus dan hasil analisis," kata Hari di ruang sidang Pengadilan Tipikor Jakarta, Selasa (21/9).

Sebelumnya saat ditanya oleh Hari mengenai pengajuan reksadana dari MI, Hery mengatakan bahwa tidak semua dilengkapi dengan prospektus mengenai reksadana tersebut. "Ada yang ada, ada yang tidak," akunya.

Setelah Hari memberikan tanggapan, Eko lantas meminta kepastian Hery tetap mempertahankan kesaksiannya atau tidak.

"Tidak Pak. Saya cukup," kata Hery kepada Eko.

"Kok tidak, gimana?" tanya Eko.

"Saya kurang paham juga Pak," jawab Hery.

Mendengar pernyataan tersebut, Eko lantas menegaskan bahwa kesaksian seorang saksi di persidangan menentukan nasib orang lain.

"Jangan asal ngomong tanpa mikir gitu loh ya. Saudara tetap pada keterangan saudara tadi atau yang benar tanggapan terdakwa?" tegas Eko.

"Tetap pada keterangan tadi sih Pak," tandas Hery.

Baca juga: Sidang Lanjutan Kasus Asabri Ungkap Peran Terdakwa Ilham

Eko meminta kepada semua saksi untuk memberikan keterangan yang benar. Ia menyebut bahwa bersaksi dusta merupakan dosa besar. Terlebih, kesaksian saksi beserta bukti-bukti di persidangan adalah hal yang akan dijadikan dasar untuk memutus sebuah perkara.

"Jadi tolong, ketika saudara memberikan kesaksian sebagai seorang saksi, saudara memegang teguh sumpah saksi tadi," pungkas Eko.

Selain Hari, perkara ASABRI yang merugikan keuangan negara sebesar Rp22,788 triliun itu juga menyeret tujuh terdakwa lain ke meja hijau. Mereka antara lain dua mantan Direktur Utama ASABRI, yaitu Sonny Widjaja dan Adam Rachmat Damiri, dan mantan Direktur Investasi dan Keuangan ASABRI Bachtiar Effendi.

Adapun terdakwa dari pihak swasta adalah Komisaris PT Hanson International Benny Tjokrosaputro, Komisaris Utama PT Trada Alam Minera Heru Hidayat, Direktur Jakarta Emiten Investor Relation Jimmy Sutopo, dan Direktur Utama PT Prima Jaringan Lukman Purnomosidi. (P-5)

BERITA TERKAIT