20 September 2021, 20:25 WIB

Korban Kebiadaban KKB di Papua Bantah Dokter Restu Pegang Senjata


Emir Chairullah | Politik dan Hukum

DUA dari empat tenaga kesehatan yang menjadi korban penganiayaan kelompok kriminal bersenjata (KKB) di Kiwirok, Kabupaten Pegunungan Bintang, Papua, membantah berita yang beredar dan menyatakan dr Restu Pamanggi memegang senjata api.
 
"Tidak benar berita yang beredar karena kami semua menjadi korban aksi penganiayaan yang dilakukan KKB, Senin lalu (13/9)," kata Kristina Sampe Tonapa dan Katrianti Tandila secara terpisah di Jayapura, hari ini.
 
Kedua nakes yang hingga kini masih dirawat di RS Marthen Indey, Jayapura, itu secara tersendat-sendat kembali mengisahkan insiden yang dialami mereka seraya menegaskan tidak benar dr Restu memegang senjata karena dirinya juga terluka.
 
"Apa yang beredar di luar sangat tidak benar dan itu perbuatan yang keji karena keberadaan kami semua untuk menolong masyarakat agar mendapat pelayanan kesehatan, " ungkap keduanya yang dirawat di dalam satu kamar.

Dia mengakui saat insiden pembakaran dan perusakan terjadi mereka berempat melarikan diri dengan melompat ke dalam jurang yang ada di dekat puskesmas.
 
Massa yang merupakan masyarakat Kiwirok ikut mengejar dengan membawa panah dan senjata tajam hingga sempat dilukai mereka, para nakes.

Baca juga: Buru 4 DPO Teroris Poso, Polri Minta DPO Segera Serahkan Diri

"Kami berempat yakni saya, Katrianti Tandila, Marselinus Ola Atanila dan almarhum Gabriela Meilan lompat ke jurang namun mereka tetap mengejar dan menganiaya," ungkapnya.
 
Katriana mengaku dirinya terjatuh paling dalam, yakni sekitar 500 meter bertahan dengan minum air hujan selama tiga hari sebelum dievakuasi anggota TNI-Polri," ungkap Katrina Sampe.

Atas kejadian ini, Katriana Sampe yang mengalami luka tusuk benda tumpul di paha ini mengaku tidak ingin kembali bertugas ke pedalaman.

Katrina Sampe mengaku sudah lima tahun sebagai tenaga honorer kesehatan yang direkrut Dinas Kesehatan Pegunungan Bintang dan baru kemarin mengalami insiden yang tidak akan dilupakan seumur hidup.
 
"Saya tidak ingin kembali bertugas ke pedalaman, karena trauma, " ungkap kedua nakes secara bergantian.
 
Kapendam XVII Cenderawasih Kol Arm Reza menyatakan, selain mengobati luka yang diderita mereka juga diberi pendampingan dari psikolog agar mengurangi trauma yang dialaminya.
 
"Kodam XVII Cenderawasih memberikan perawatan dan pendampingan kepada mereka hingga sembuh dan kembali ke keluarganya, " kata Kol Arm Reza.

Empat nakes yang masih dirawat yakni dr. Restu Pamanggi, Katrianti Tandila, Emanuel Abi, dan Kristina Sampe Tonapa.

Sebelumnya, Juru Bicara Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB), Sebby Sambom, menganggap para dokter dan nakes yang bertugas di wilayah tersebut bekerja sama dengan aparat TNI/Polri.

"Terbunuhnya seorang perawat di Distrik Kiwirok bukti dokter dan perawat bekerja sama dengan aparat keamanan. Dokter di Desa Kiwirok yang pertama kali mengeluarkan senjata untuk menembak anggota pasukan TPNPB. Setelah ketahuan baru pembakaran terjadi. Jadi, pemicuhnya adalah dokter bersenjata," tutur Sebby.(Ant/OL-4)

BERITA TERKAIT