20 September 2021, 07:25 WIB

Ali Kalora Tewas, MIT pun Berakhir dan Sulteng Kondusif


Cahya Mulyana | Politik dan Hukum

PENGAMAT Teroris dari Community of Ideological Islamic Analyst Harits Abu Ulya menilai, tewasnya Pimpinan Mujahidin Indonesia Timur (MIT) Ali Kalora sangat berdampak baik bagi kondusifitas Poso dan Sulawesi Tengah. Sebab pengikutnya yang tersisa tidak memiliki pengaruh dan kemampuan yang besar.

"Itu sangat berpengaruh pada potensi ancaman teror atau gangguan keamanan di wilayah Poso dan sekitarnya. Ancaman jadi rendah atau kecil. Bahkan bisa diprediksi eksistensi kelompok teror di Poso yang ada di gunung akan down atau habis," paparnya kepada Media Indonesia, Senin (20/9).

Menurut dia pengikut MIT kehilangan pemimpinnya dan tidak ada yang mampu menggantikannya. Keempat anggota MIT tidak ada yang selevel dengan Ali Kalora untuk meneruskan misi mereka.

"Jadi otomatis empat orang itu hanya menjadi sekumpulan yang bertahan hidup bersama atau secara individu menghadapi ancaman sergapan satgas Madago Raya," urainya.

Di samping itu, lanjut dia, keempat anggota MIT tidak mempunyai senjata dan amunisi yang layak untuk melawan aparat. Hanya tersisa sepucuk pistol revolver rakitan dan sajam serta rakitan bom lontong.

Keterbatasan logistik untuk keempatnya juga akan memaksa mereka memasuki perkampungan dan membuka peluang terendus aparat. "Mengingat banyak pos penyekatan dan pola gerak mereka sudah mulai terbaca oleh unsur satgas Madago Raya," katanya.

Yang paling penting, kata Harist empat orang itu tidak bisa menjadi magnet bagi para simpatisan MIT. Juga semakin kaburnya tujuan atau misi utama dari kelompok ini.

"Dulu ketika kelompok ISIS di Suria eksis, kelompok Ali Kalora bisa mengglorifikasi aksi-aksi mereka. Namun lambat laun, aspek itu makin pudar dan bergeser hanya menjadi sekelompok sipil yang mengganggu keamanan dan berakhir saat operasi Madago Raya, mereka hanya bisa bertahan hidup," pungkasnya. (OL-13)

Baca Juga: Ali Kalora Tewas, Pengamat : Berantas MIT Hingga Akarnya

BERITA TERKAIT