15 September 2021, 12:07 WIB

Wapres: Sektor Pariwisata era Pandemi Alami Perubahan Tren


Emir Chairullah | Politik dan Hukum

PEMERINTAH mengakui sektor pariwisata menghadapi tantangan besar untuk dapat bangkit dan kembali berkontribusi terhadap pendapatan nasional. Untuk mengatasi tantangan ini, pemerintah Indonesia telah menetapkan protokol kesehatan berbasis Cleanliness, Health, Safety and Environment Sustainability (CHSE). Protokol kesehatan berbasis CHSE menjadi standar penyiapan destinasi wisata. Demikian diungkapkan Wakil Presiden Ma’ruf Amin saat membuka Global Tourism Forum (GTF) 2021 di Jakarta, Rabu (15/9).

Menurut berbagai protokol kesehatan itu dibuat setelah melihat adanya perubahan tren pariwisata pasca pandemi. “Pemerintah juga mencatat adanya perubahan tren pariwisata pasca pandemi, yaitu destinasi wisata alam terbuka, tidak terlalu ramai pengunjung, serta concern terhadap faktor kebersihan, kesehatan, keamanan dan kelestarian (4K),” ujarnya.

Di samping prokes, tambah Ma’ruf, pemerintah juga mencatat adanya peningkatan jumlah destinasi wisata halal di berbagai negara, tidak saja di negara yang berpenduduk mayoritas muslim. Hal ini didorong oleh meningkatnya jumlah pelancong muslim khususnya dari negara-negara Timur Tengah.

“Sejalan dengan tren dunia dalam mengembangkan 4K, maka wisata halal pun mengembangkan konsep pemenuhan aspek kebersihan, kenyamanan, dan kesesuaian dengan tuntunan agama,” jelasnya.

Bagi Indonesia, konsep wisata halal berarti pemenuhan fasilitas layanan halal yang ramah bagi wisatawan muslim (moslem friendly tourism) di destinasi wisata, seperti akomodasi, restoran atau makanan halal, tempat ibadah yang memadai, serta fasilitas layanan halal lainnya. “Upaya ini dimaksudkan untuk mendukung agar Indonesia menjadi leader dalam global halal tourism sekaligus untuk meningkatkan minat wisatawan muslim dunia datang ke Indonesia,” jelasnya.

Sayangnya, tambah Ma’ruf, dalam implementasinya, pengembangan wisata halal masih terkendala oleh masih rendahnya literasi masyarakat. “Untuk itu, kita semua perlu terus berupaya meningkatkan literasi masyarakat mengenai konsep wisata halal,” ujarnya.

Ma’ruf menyebutkan, secara global sektor pariwisata menjadi sektor yang paling terdampak pandemi Covid-19, yang ditunjukkan dengan penurunan drastis jumlah kunjungan wisatawan. Data UNWTO menujukkan 2020 menjadi tahun yang berat bagi industri pariwisata global dimana jumlah wisatawan internasional menurun 74% secara global akibat pandemi. Sementara potensi pendapatan yang hilang mencapai US$1,3 triliun, serta 100-120 juta pekerja pariwisata kehilangan pekerjaan.

“Wilayah Asia dan Pasifik mengalami penurunan paling drastis, mencapai 84%. Untuk Indonesia, jumlah kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) 2020 hanya mencapai 4,02 juta kunjungan, atau turun 75,03% dibandingkan 2019 yang tercatat sebanyak 16,11 juta kunjungan,” paparnya. (OL-6)

BERITA TERKAIT