16 August 2021, 16:14 WIB

Polisi Akui Kesulitan Lacak Tabung Oksigen Palsu


Yakub Pryatama Wijayaatmaja | Politik dan Hukum

BARESKRIM Polri akui kesulitan dalam melacak penyebaran tabung oksigen palsu alat pemadam api ringan (APAR). Diketahui, Bareskrim menangkap enam tersangka yang diduga mengubah tabung APAR menjadi tabung oksigen. 

Mereka sudah menjual sebanyak 190 tabung. "Masih kami cek, karena data itu tidak ditulis dalam buku register dia. Jadi orang datang beli, dia tidak punya data terkait dengan siapa membeli itu. Karena yang beli individu itu sulit untuk terdata," papar Wadirtipideksus Kombes Wishnu Hermawan, Senin (16/8).

Wishnu menuturkan pihaknya masih mendalami tersebar di mana saja tabung APAR tersebut. "Artinya kalau sesuai dengan keterangan ahli, perbedaan tekanan dari tabung APAR dengan tabung oksigen berbeda," paparnya.

Wishnu mengemukakan tabung palsu yang beredar itu harus segera ditemukan karena diiisi oleh oksigen berbahaya. Bahkan, tabung APAR tersebut bisa meledak.

"Makanya tabung APAR yang diubah menjadi tabung oksigen isinya cuma 80%. Kalau lebih dari itu bisa dikhawatirkan meledak," ungkap Whisnu.

Sejauh ini, kata Wishnu peredaran tabung palsu terdapat di Bekasi dan Jawa Timur (Jatim). Tidak tercatatnya pembeli individu menjadi kendala dalam pelacakan.

Hal ini tentu berbeda jika membeli via rumah sakit yang pasti ada catatan riwayat pembelian. "Kebanyakan orang-orang yang membeli di situ disimpan sebagai cadangan di rumah masing-masing. Kalau dia yang membelinya perusahaan atau rumah sakit, dia terdata," pungkasnya.

Baca juga: Kapolres Bungo Kawal Ketersediaan Oksigen di Rumah Sakit

Sebelumnya, Polri menetapkan enam tersangka pemalsuan tabung oksigen palsu APAR. Dirtipideksus Bareskrim Brigjen Helmy Santika menuturkan bahwa tabung oksigen palsu itu sudah dibeli 190 orang. (OL-14)

BERITA TERKAIT