02 May 2021, 13:33 WIB

Butuh Kebijakan Cetak Milenial Jadi Manusia Unggul


mediaindonesia.com | Politik dan Hukum

ANGGOTA DPR RI Anis Byarwati menilai perlu kebijakan dan strategi untuk mencetak generasi milenial menjadi manusia-manusia unggul untuk membawa bangsa Indonesia mencapai masa kejayaan.
  
''Di era disrupsi, mereka yang unggul yang dapat menjadi pemenang. Jadi, kemampuan kita mempersiapkan manusia-manusia unggul selama 15 tahun ke depan akan menentukan keberhasilan kita dalam memanfaatkan celah kesempatan dari bonus demografi,'' kata Anis dalam keterangannya di Jakarta, Minggu (1/5). Hal itu dikatakannya saat memberikan sambutan dalam acara wisuda LBQ Al-Utsmani Jakarta secara daring pada Sabtu (1/5).
  
Menurut Anis, Indonesia akan mendapat anugerah bonus demografi selama rentang waktu 2020- 2035, yang akan mencapai puncaknya pada 2030. Anggota Komisi XI DPR RI itu menilai bonus demografi itu bisa jadi akan menjadi berkah atau jadi musibah bila kita tidak mempersiapkan generasi yang akan mengisi era tersebut.

Baca Juga: Larangan Mudik Ada Untung-Rugi, tetapi tetap tidak Boleh Mudik
  
''Pada rentang waktu 2020 sampai 2035 dunia akan diwarnai Generasi Y atau Angkatan digital yang terbentuk dari mereka yang lahir pada 1980-1990, atau pada awal 2000, dan seterusnya. Secara umum generasi millenial memiliki karakter sangat akrab dengan media dan internet,'' ujarnya.
  
Politisi PKS itu mengutip berdasarkan Infografis Pusat data media sebuah media ibu kota yang menyebutkan bahwa ada sekitar 80 juta milenial lahir pada 1976-2001. Menurut dia, para milenial rata-rata mengalihkan perhatiannya pada PC, smartphone, tablet, dan televisi 27 kali setiap jamnya. Coba dibandingkan dengan Generasi Baby Boomers kelahiran tahun 1960-1970-an yang hanya mengakses gadget 17 kali per jam.
  
''Generasi milenial ini terbuka terhadap ide dan gagasan orang lain. Namun di sisi lain mereka rawan memiliki potensi karakter negatif, seperti kurang peka terhadap lingkungan sosial, pola hidup bebas, cenderung bersikap individualistik, kurang realistis, dan kurang bijak dalam menggunakan media, yang lebih mementingkan gaya,'' katanya.
  
Anis menjelaskan, bonus demografi akan menjadi musibah besar bagi bangsa Indonesia. Itu jika generasi yang nanti akan mengisi Indonesia adalah generasi yang tidak beradab, tidak mau bekerja keras atau juga generasi yang meniru-niru budaya orang.
  
Menurut dia, generasi millennial yang berilmu, berkualitas, berkemajuan, dan memberi manfaat bagi dirinya sendiri, keluarga, masyarakat, negara, dan agama sangat diharapkan dalam membangun bangsa di masa yang akan datang. (RO/OL-10)

BERITA TERKAIT