02 March 2021, 16:20 WIB

KPK Selisik Rekening Stafsus Edhy Prabowo yang belum Terblokir


Dhika Kusuma Winata | Politik dan Hukum

KOMISI Pemberantasan Korupsi (KPK) mengungkap adanya rekening staf khusus eks Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo, Andreau Misanta Pribadi, tidak diblokir pihak bank meski penyidik sudah meminta pembekuan. Penyidik mendalami persoalan pemblokiran rekening itu ketika memeriksa saksi dari Legal Bank BUMN Amanda Tita Mahesa.

"Didalami pengetahuannya terkait dugaan alasan tidak terblokirnya salah satu rekening bank milik tersangka AMP (Andreau). Sebelumnya tim penyidik KPK telah melakukan pemblokiran untuk seluruh rekening bank milik tersangka AMP," kata pelaksana tugas juru bicara KPK Ali Fikri, Selasa (2/3).

KPK sebelumnya mendalami dugaan penyimpanan sebagian uang yang diduga hasil suap eskpor benih lobster di rekening Andreau. Uang dari eksportir diduga turut masuk ke rekening Andreau. Andreau juga merupakan Ketua Pelaksana Tim Uji Tuntas dalam perizinan ekspor benih lobster di Kementerian Kelautan dan Perikanan.

Selain dari sebuah bank pelat merah, penyidik memeriksa saksi dari karyawan swasta yakni Syammy Dusman, Mulyanto, dan Asep Abidin Supriatna. Terhadap saksi Syammy Dusman, penyidik mendalami dugaan aliran uang yang dibagikan Edhy ke berbagai pihak. Sumber uang itu diduga dari para eksportir.

"Didalami pengetahuannya terkait dugaan aliran sejumlah uang yang dibagikan oleh tersangka EP (Edhy) ke berbagai pihak yang sumbernya juga diduga dari kumpulan pemberian sejumlah uang oleh para eksportir benur yang mendapatkan izin di KKP," kata Ali Fikri.

Untuk saksi Mulyanto, KPK menggali informasi terkait dugaan pengelolaan uang tersangka Amiril Mukmininatas atas perintah Edhy. Adapun saksi Asep Abidin digali pengetahuannya terkait dugaan pembelian rumah oleh Edhy melalui Amiril yang sumbernya uangnya diduga dari para eksportir.

KPK telah menetapkan tujuh tersangka dalam kasus itu yakni Edhy Prabowo, dua Staf Khusus Menteri KKP yakni Safri dan Andreau Pribadi Misata, staf istri Menteri KKP Ainul Faqih, pengurus PT Aero Citra Kargo Siswadi, Direktur PT Dua Putra Perkasa Suharjito, dan sekretaris pribadi Edhy, Amiril Mukminin.

Edhy diduga menerima suap dari pengusaha berkaitan perizinan ekspor benih lobster dan membelanjakan uang tersebut membeli barang-barang mewah saat berada di Honolulu, Hawaii, Amerika Serikat.

KPK menduga Edhy menerima Rp3,4 miliar dan US$100 ribu (setara US$1,4 miliar). Senilai US$100 ribu itu diduga dari Direktur PT Dua Putra Perkasa Suharjito pada Mei 2020. Adapun duit Rp3,4 miliar diduga berasal dari Ahmad Bahtiar selaku pemilik PT Aero yang ditransfer ke rekening staf istri Edhy. (P-2)

BERITA TERKAIT