25 February 2021, 15:38 WIB

Gerindra: Vaksinasi Guru Bukan Patokan Sekolah Tatap Muka Dibuka


Hilda Julaika | Politik dan Hukum

KETUA Fraksi Gerindra DPRD DKI, Rani Mauliani, menyoroti vaksinasi untuk tenaga pendidik sejak kemarin (24/2). Rani mengatakan, vaksinasi untuk guru ataupun dosen bukan patokan sekolah atau belajar secara tatap muka dilakukan. Terlebih untuk daerah seperti DKI Jakarta yang penularan kasus covid-19 masih sangat tinggi.

Hal ini untuk menanggapi pernyataan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim menargetkan proses vaksin 5 juta guru dan tenaga kependidikan bisa selesai di akhir Juni 2021. Jika hal ini tercapai, maka proses belajar tatap muka di sekolah bisa terlaksana di Juli 2021.

Baca juga: WNA Cabuli Anak di Bawah Umur, Terancam Dikebiri

“Vaksinasi untuk guru harusnya bukan jadi patokan dibukannya sekolah tatap muka,” kata Rani kepada Media Indonesia, Kamis (25/2).

Lebih lanjut, Rani membenarkan, jika vaksinasi guru saja tidak cukup untuk membuat kegiatan belajar mengajar secara langsung aman dari penularan virus. Pasalnya, para siswa yang belajar dan datang ke sekolah kemungkinan belum mendapatkan vaksin.

Hal ini akan berisiko untuk para siswa karena menjadi rentan tertular covid-19. Mereka menjadi memiliki mobilitas yang tinggi di luar rumah untuk sampai ke sekolah. Ditambah interaksi yang ada di sekolah pun perlu mendapat perhatian khusus.

“Tapi protokol kesehatan seperti sarana-sarana penunjangnya juga harus menjadi perhatian yang utama,” sarannya.

Nadiem sebelumnya mengatakan para guru dan tenaga pendidik merupakan bagian dari kelompok prioritas vaksinasi kedua setelah tenaga kesehatan. Pasalnya, hingga saat ini hampir semua sekolah masih melaksanakan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) sebagai dampak dari pandemi Covid-19.

PJJ yang berjalan sejak awal tahun 2020 itu dinilainya sudah terlalu lama. Selain kurang efektif, hal itu pun menyebabkan learning loss yang kini menjadi tantangan dunia pendidikan.

"Sekolah merupakan salah satu sektor yang sampai sekarang belum tatap muka dan risiko dari pembelajaran jarak jauh yang terlalu lama itu sangat besar," imbuhnya.

Meski sudah memulai vaksinasi yang ditargetkan selesai pada akhir Juni, Nadiem mengatakan PTM belum bisa dilaksanakan 100%. Artinya, dalam seminggu para siswa mungkin akan mengikuti PTM sebanyak dua atau tiga kali.

Di samping itu, penerapan protokol kesehatan pun harus tetap dilakukan. Guru dan siswa harus tetap menjalankan kebiasaan baru tersebut agar vaksinasi nasional dalam mencapai herd immunity bisa efektif. (OL-6)
 

BERITA TERKAIT