04 February 2021, 13:35 WIB

Uang Sitaan dari Rumah Dinas Edhy Prabowo Capai Rp16 Miliar


Dhika Kusuma Winata | Politik dan Hukum

KOMISI Pemberantasan Korupsi (KPK) terus mendalami aliran serta penggunaan uang dalam kasus dugaan suap yang menjerat eks Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo. Dalam kasus itu, komisi antirasuah mencatat sudah Rp16 miliar disita dari sejumlah penggeledahan termasuk di rumah dinas Edhy.

"Penyidik mengonfirmasi mengenai uang-uang yang diamankan di rumah dinas saat penggeledahan," ucap Pelaksana Tugas Juru Bicara KPK Ali Fikri, Kamis (4/2).

Konfirmasi seputar uang sitaan itu dilakukan penyidik saat memeriksa Edhy, Rabu (3/2). Selain itu, penyidik juga mendalami lagi mengenai kebijakan Edhy yang mengizinkan budidaya dan ekspor benih lobster.

"Dikonfirmasi juga mengenai kebijakan diizinkannya budidaya dan ekspor benih lobster sebagaimana pada Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan tertanggal 4 Mei 2020 soal pengelolaan lobster, kepiting, dan rajungan," imbuh Ali.

Penyidik KPK juga memeriksa tersangka Amiril Mukminin yang merupakan sekretaris pribadi (sespri) Edhy. Amiril dicecar terkait tugas-tugasnya sebagai sespri. Selain itu, penyidik juga mencecar Amiril mengenai penggunaan sejumlah uang yang diduga diterima dari eksportir benih lobster.

Dari penangkapan sebelumnya, KPK menyita sejumlah barang mewah hasil belanjaan Edhy yakni sejumlah jam, tas, pakaian, hingga sepeda. Total uang yang disita penyidik mencapai Rp16 miliar.

Kemudian, ada pula lima unit mobil dan sembilan sepeda. Barang-barang itu diamankan dari penangkapan dan penggeledahan di sejumlah lokasi termasuk rumah dinas Edhy.

Belakangan, KPK juga mengumumkan membuka peluang akan menjerat Edhy dengan pasal pencucian uang (TPPU) sepanjang bukti permulaan mencukupi. Dari sejumlah pemeriksaan, diduga Edhy turut menggunakan duit lobster untuk membeli tanah dan menyewa apartemen untuk atlet bulu tangkis.

Edhy pun mengakui memang menyewakan apartemen untuk dua pebulu tangkis yakni Keysa Maulitta Putri dan Debby Susanto. Namun, ia menepis uang sewa apartemen itu berkaitan dengan kasus suap lobster yang menjeratnya lantaran dukungan itu diberikan sebelum menjabat menteri.

"Saya sudah sewakan apartemen sudah lama sejak 2010 tapi tidak ada hubungan khusus. Bisa dibuktikan tanya sendiri yang bersangkutan," ucap Edhy.

KPK menetapkan tujuh tersangka dalam kasus itu yakni Edhy Prabowo, dua Staf Khusus Menteri KKP yakni Safri dan Andreau Pribadi Misata, staf istri Menteri KKP Ainul Faqih, pengurus PT Aero Citra Kargo Siswadi, Direktur PT Dua Putra Perkasa Suharjito, dan sekretaris pribadi Edhy, Amiril Mukminin.

Edhy diduga menerima suap dari pengusaha berkaitan perizinan ekspor benih lobster dan membelanjakan uang tersebut membeli barang-barang mewah saat berada di Honolulu, Hawaii, Amerika Serikat.

KPK menduga Edhy menerima Rp3,4 miliar dan US$100 ribu (setara US$1,4 miliar). Uang senilai US$100 ribu tersebut diduga dari Direktur PT Dua Putra Perkasa Suharjito pada Mei lalu. Adapun duit Rp3,4 miliar diduga berasal dari Ahmad Bahtiar selaku pemilik PT Aero yang ditransfer ke rekening staf istri Edhy.

KPK juga menemukan rekening Ahmad Bahtiar dan seorang lagi pemilik PT Aero, Amri, yang diduga menampung dana Rp9,8 miliar dari perusahaan-perusahaan eksportir. Kedua pemegang PT Aero itu diduga sebagai nomine pihak Edhy dan seorang bernama Yudi Surya Atmaja. (P-2)

BERITA TERKAIT