28 January 2021, 15:05 WIB

Indeks Persepsi Korupsi Indonesia Melorot hingga Setara Gambia


Dhika Kusuma Winata | Politik dan Hukum

TRANSPARENCY International merilis Indeks Persepsi Korupsi (Corruption Perception Index/CPI) terbaru untuk 2020. Skor CPI Indonesia mengalami penurunan tiga poin menjadi 37 dari skor 2019 yang sebesar 40.

"Ini bukan hal yang menggembirakan. Dulu naik bertahap, kemudian sempat stagnan kemudian turun dalam satu tahun ini cukup anjlok tiga poin," kata Sekjen Transparency International Indonesia (TII) Danang Widoyoko dalam konferensi pers daring, Kamis (28/1).

Dari segi peringkat, penurunan skor itu juga mengakibatkan Indonesia turun ke posisi 102 dari total 180 negara yang dinilai. Pada 2019, Indonesia menempati peringkat 85 dengan skor 40. Posisi Indonesia saat ini setara dengan negara Gambia.

Di kawasan ASEAN, CPI Indonesia 2020 itu di bawah negara-negara tetangga seperti Singapura (85), Brunei Darussalam (60), Malaysia (51), dan Timor Leste (40).

Danang menyatakan ada tiga faktor utama yang menyebabkan penurunan CPI Indonesia. Pertama, persepsi korupsi di sektor ekonomi. Sejumlah indikator yang berhubungan yakni kemudahan berbisnis dan investasi nilainya melorot.

Contohnya, PRS International Country Risk Guide yang memotret turun dari 58 pada 2019 menjadi 50 poin pada 2020. Kemudian IMD World Competitiveness Yearbook juga turun 5 poin dari 2019. Global Insight Country Risk Ratings juga mengamalami penurunan 12 poin serta PERC Asia Risk Guide turun 3 poin.

Sejumlah indikator terkait ekonomi lainnya stagnan. Contohnya skor untuk World Economic Forum stagnan di 46 poin, Bertelsmann Foundation Transform Index bertahan di 37 poin, dan Economist Intelligence Unit Country Ratings 37 poin.

Menurut Danang, turunnya skor CPI Indonesia 2020 membuktikan sejumlah kebijakan yang bertumpu pada kacamata ekonomi dan investasi tanpa mengindahkan faktor integritas memicu terjadinya korupsi. Hal itu termasuk dalam persoalan penanganan pandemi covid-19 saat ini.

"Relasi korupsi masih lazim dilakukan oleh pebisnis kepada pemberi layanan publik untuk mempermudah proses berusaha," ucapnya.

Faktor lain yang menyumbang penurunan CPI yakni sektor politik dan demokrasi. Penurunan terjadi pada indikator Varieties of Democracy yang melorot dua poin dari 28 pada 2019 menjadi 26 pada 2020. Menurut Danang, hal itu mengindikasikan korupsi politik masih menjadi masalah dalam sistem politik di Indonesia.

Satu-satunya indikator yang naik dalam CPI 2020 yakni World Justice Project–Rule of Law Index yang berhubungan dengan penegakan hukum. Skornya naik dari 21 menjadi 23.

Meski indikator penegakan hukum mengalami kenaikan, imbuhnya, secara agrerat tidak mampu memengaruhi kontribusi CPI lantaran dalam lima tahun terakhir indeks penegakan hukum itu selalu di bawah rata-rata skor CPI tahunan. (OL-14)

BERITA TERKAIT