14 January 2021, 23:35 WIB

Komnas HAM : Penembakan 4 Laskar FPI Bukan Pelanggaran HAM Berat


Siti Yona Hukmana | Politik dan Hukum

KOMISI Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) menekankan bahwa peristiwa penembakan terhadap empat pengikut Muhammad Rizieq Shihab di KM 50 Tol Jakarta-Cikampek pada Senin, 7 Desember 2020 bukan pelanggaran HAM berat. Masyarakat berspekulasi bahwa peristiwa itu merupakan pelanggaran HAM berat.

"Kami juga menyampaikan bahwa sebagaimana di luar banyak beredar bahwa ini dikatakan sebagai pelanggaran HAM berat, kami tidak menemukan indikasi ke arah itu (pelanggaran HAM berat)," kata Ketua Komnas HAM Ahmad Taufan Damanik dalam konferensi pers di Gedung Kemenko Polhukam, Jakarta Pusat, Kamis, (14/1).

Ahmad mengatakan dalam penetapan pelanggaran HAM berat itu harus ada indikator, kriteria, dan suatu desain operasi. Seperti ada suatu perintah yang terstruktur, terkomando. Termasuk terdapat indikator isi ruangan kejadian dan lainnya.

"Itu tidak dilakukan, karena itu memang kami berkesimpulan ini merupakan suatu pelanggaran HAM , karena ada nyawa yang dihilangkan," ujar Ahmad.

Baca juga : Jokowi Minta Rekomendasi Komnas HAM soal Laskar FPI Dijalankan

Ahmad meminta kasus dugaan pelanggaran HAM itu diproses hingga ke persidangan. Guna membuktikan indikasi yang disebut unlawfull killing atau pembunuhan di luar hukum.

Ada dua peristiwa tewasnya enam pengikut Rizieq. Pertama baku tembak antara polisi dengan eks laskar Front Pembela Islam (FPI). Peristiwa ini mengakibatkan dua laskar khusus pengawal Rizieq tewas.

Peristiwa kedua, pemberian tindakan tegas dan terukur terhadap empat pengikut Rizieq lainnya. Tindakan ini dilakukan polisi di dalam mobil saat dibawa menuju Polda Metro Jaya.

Keempat orang itu disebut melakukan perlawanan yang mengancam jiwa petugas. Namun, tindakan polisi tidak dibenarkan Komnas HAM. Sebab, polisi tidak berupaya untuk mencegah semakin banyaknya jatuh korban jiwa atas insiden pembuntutan rombongan Rizieq tersebut. (OL-2)

 

BERITA TERKAIT