14 January 2021, 14:30 WIB

Kapal Survei Tiongkok Masuk Hingga Selat Sunda


Cahya Mulyana | Politik dan Hukum


Bersamaan dengan operasi evakuasi jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ182, Badan Keamanan Laut (Bakamla) RI berhasil mengintersep kapal survei Tiongkok di Selat Sunda pada Rabu (13/1) malam. Kapal negeri Xi Jin Ping ini dapat dipukul mundur setelah masuk hingga Selat Sunda tanpa prosedur resmi.

"Bermula dari informasi yang diberikan oleh Puskodal (Pusat Komando dan Pengendalian) Bakamla, terdeteksi kapal survei/research vessel Xiang Yang Hong 03 berbendera Tiongkok yang sedang berlayar di perairan Selat Sunda dengan kecepatan 10,9 knots dan haluan ke barat daya," kata Kabag Humas dan Protokol Bakamla RI Kolonel Bakamla Wisnu Pramandita kepada Media Indonesia, Kamis (14/1).

Berdasarkan pantauan, kata dia, kapal tersebut telah mematikan Automatic Identification System (AIS) sebanyak tiga kali selama melintasi Alur Laut Kepulauan Indonesia – I (ALKI-I). AIS adalah sistem tracking kapal otomatis yang memberikan informasi tentang keadaan kapal baik posisi, waktu, haluan, dan kecepatannya untuk kepentingan keselamatan pelayaran.

"Xiang Yang Hong 03 diketahui telah mematikan AIS saat berada di Laut Natuna Utara, Laut Natuna Selatan, dan Selat Karimata," jelasnya.

Padahal, kata dia, berdasarkan Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM 7 Tahun 2019 tentang Pemasangan dan Pengaktifan Sistem Identifikasi Otomatis bagi Kapal yang berlayar di Wilayah Perairan Indonesia tertanggal 20 Februari 2019, setiap kapal berbendera Indonesia dan kapal asing yang berlayar di wilayah perairan Indonesia wajib memasang dan mengaktifkan AIS.

Wisnu menyatakan Laksamana Pertama Bakamla Suwito selaku Direktur Operasi Laut Bakamla yang sedang memimpin tim SAR Bakamla di perairan Pulau Lancang memerintahkan Letkol Bakamla Anto Hartanto, komandan Kapal Negara (KN) Pulau Nipah 321 untuk segera bertolak menuju Selat Sunda mendekati kapal tersebut.

"Pada (Rabu 13/1) pukul 09.30 WIB KN Pulau Nipah 321 segera bertolak menuju Selat Sunda. Tiba di Selat Sunda pukul 13.40, kapal survei Tiongkok terdeteksi berada pada jarak 40 Nm (Nautical mile) dengan kecepatan 9 knots dan arah haluan ke selatan. KN Pulau Nipah meningkatkan kecepatan hingga 20 Knots untuk mendekati kapal tersebut," paparnya.

Sekitar pukul 20.00 Kapal Xiang Yang Hong 03 terdeteksi pada jarak 10 Nm dari kapal Bakamla. KN Pulau Nipah 321 membuka komunikasi melalui radio marine band di channel 16 dan mendapat respon dari kapal survei Tiongkok tersebut.

Berdasarkan hasil komunikasi dan identifikasi, dapat diketahui bahwa kapal ini memang bertolak dari Tiongkok menuju Samudera Hindia dan melewati perairan Indonesia menggunakan Hak Lintas Alur Kepulauan sesuai dengan UNCLOS. Dari keterangan yang diberikan, penyebab tidak terdeteksinya AIS dalam tiga periode waktu disebabkan karena adanya kerusakan pada sistem tersebut.

Baca juga: Presiden Desak PPATK Berperan Lebih Besar dalam Pencegahan Korupsi

Sesuai Permenhub tersebut, ketika AIS tidak berfungsi, maka nahkoda wajib menyampaikan informasi kepada Stasiun Radio Pantai (SROP) atau Stasiun Vesstel Traffic Service (VTS) serta mencatat kejadian tersebut pada buku catatan harian (log book) kapal yang nantinya dilaporkan kepada Syahbandar.

"Dalam situasi ini, KN Pulau Nipah 321 tidak dapat melaksanakan dokumentasi dan pemeriksaan lebih lanjut dikarenakan cuaca buruk. KN Pulau NIpah 321 terus membayangi kapal survei Tiongkok hingga keluar dari ZEEI," ujarnya.

Sekitar pukul 21.00, setelah diamati kapal sasaran telah keluar dari ZEEI, KN PUlau Nipah 321 putar arah kembali ke daerah Operasi SAR. "Kamis pagi hari sekitar pukul 08.00 KN Pulau Nipah 321 tiba di daerah SAR dan bergabung kembali dengan tim SAR Gabungan Pesawat Sriwijaya Air SJ182," pungkasnya. (P-5)

BERITA TERKAIT