05 January 2021, 02:00 WIB

TNI-AL Teliti Temuan Sea Glider di Sulsel


Cahya Mulyana | Politik dan Hukum

TNI Angkatan Laut (TNIAL) mengungkapkan benda mirip pesawat yang ditemukan nelayan di perairan Selayar, Sulawesi Selatan, merupakan sea glider atau kendaraan bawah laut nirawak. Alat itu tidak berfungsi untuk aktivitas intelijen.

“Alat ini banyak digunakan untuk keperluan survei atau mencari data oseanografi di laut, di bawah lautan. Ini bisa diakses melalui website oleh semua yang bisa mengakses data,” ujar Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana Yudo Margono saat memberikan keterangan resmi mengenai temuan sea glider di Pusat Hidrografi dan Oseanografi TNI Angkatan Laut (Pushidrosal), Ancol, Jakarta, kemarin.

Menurut dia, alat yang ditemukan pada 26 Desember 2020 itu bisa digunakan untuk baik kepentingan industri maupun pertahanan.

Hal itu berdasarkan hasil penelitian lebih lanjut Pushidrosal, lembaga yang kompeten untuk meneliti peralatan tersebut. Yudo juga berkoordinasi dengan Kementerian Riset dan Teknologi (Kemenristek) dan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).

Ia mengatakan benda itu terbuat dari aluminium dengan dua sayap dengan ukuran masing-masing 50 cm, kamera, dan antena di bagian belakang dengan panjang 93 cm.

“Tidak ditemukan ciri-ciri perusahaan negara pembuat. Ini dia, tidak ada tulisan apa pun di sini, dari awalnya demikian. Kita tidak merekayasa, masih persis seperti yang ditemukan nelayan,” pungkasnya.

Sejauh ini, kata dia, negara yang mampu membuat sea glider ialah Amerika Serikat, Tiongkok, Prancis, Kanada, dan Jepang.

Namun, sea glider yang ditemukan di Sulawesi Selatan itu nihil identitas sehingga perlu analisis lebih lanjut.

Langkah TNI-AL itu didukung Kementerian Pertahanan. “Saat ini TNI-AL sudah menyatakan bahwa drone yang ditemukan tersebut adalah sea glider yang biasa digunakan untuk survei data oseanografi . Untuk lebih rinci, pihak TNI-AL melalui Pusat Hidrografi dan Oseanografi akan menyelidiki lebih lanjut drone tersebut,” ujar juru bicara Menteri Pertahanan RI Dahnil Anzar Simanjuntak dalam keterangannya, kemarin.

Menurut dia, Kementerian Pertahanan mengajak publik agar tidak berpolemik yang kontraproduktif soal temuan sea glider. Kementerian Pertahanan dan Markas Besar TNI, khususnya Angkatan Laut, pasti akan menangani permasalahan tersebut.


Remeh

Secara terpisah, Ketua DPD RI La Nyalla Mattalitti meminta pemerintah mengusut pemilik sea glider. Ia mengingatkan pemerintah untuk mewaspadai aktivitas mata-mata atau spionase dari negara lain.

“Ditemukannya pesawat nirawak bawah laut atau sea glider di laut Kabupaten Selayar tidak bisa disepelekan. Ada potensi spionase dari sea glider yang belum teridentifikasi milik siapa itu. Indonesia harus waspada,” ujar La Nyalla kepada wartawan di Jakarta, kemarin.

Sementara itu, pengamat militer dan intelijen Susaningtyas Nefo Handayani Kertopati mengharapkan pemerintah Indonesia tidak menganggap remeh penemuan unmanned underwater vehicle (UUV) di Sulawesi Selatan dan segera menetapkan langkah-langkah strategis.

“Kemenhan, Mabes TNI, dan Mabes TNI-AL tidak boleh memandang remeh hasil temuan ketiga UUV beberapa waktu yang lalu. Jangan sampai konsentrasi menghadapi covid-19 kemudian mengurangi kewaspadaan nasional terhadap bahaya perang besar di Laut China Selatan,” ucap Nuning.

Nuning mengatakan penemuan UUV itu merupakan fakta penggunaan sistem tanpa awak telah dilakukan berbagai negara maju di laut. (Ant/P-5)

BERITA TERKAIT