29 December 2020, 01:45 WIB

Pihak-Pihak Berkonflik Harus Diajak Bicara


Emir Chairullah | Politik dan Hukum

PEMERINTAH Afghanistan secara resmi meminta Ketua Dewan Masjid Indonesia (DMI) Jusuf Kalla dan ulama-ulama Indonesia menjadi mediator dalam perundingan damai di antara pihak yang berkonflik di negara tersebut. Presiden Afghanistan Ashraf Ghani sangat mengharapkan kemampuan mediasi dan negosiasi yang dilakukan Kalla bisa mengakhiri perang yang sudah berlangsung selama 40 tahun tersebut.

Wartawan Media Indonesia Emir Chairullah berkesempatan mewawancarai Wakil Presiden Ke-10 dan Ke-12 RI tersebut saat perjalanan pulang dari Kabul, Afghanistan, menuju Jakarta, Sabtu (26/12/2020).


Sebenarnya apa yang menjadi motivasi Anda untuk terlibat dalam berbagai penyelesaian konflik ini?

Yang pertama dari sisi negara kita selalu menjaga keutuhan NKRI. Banyak orang bicara NKRI harga mati, tetapi setelah ada ribut dan konflik, kita bikin apa. Kalau di luar negeri, Pembukaan UUD 1945 juga menyebutkan bahwa kita harus ikut serta menciptakan perdamaian dunia. Jadi, kalau kita tidak ikut serta, kita tidak melaksanakan UUD.


Bagaimana strateginya untuk mendamaikan pihak yang berkonflik ini?

Pertama harus ada win-win dan dignity for all. Kedua, harus punya tujuan bersama dalam jangka panjang dan setiap negara harus mempunyai kedua hal itu.


Apakah strategi itu berlangsung di konflik lokal?

Tentu konflik lokal kita berusaha menyelesaikannya dalam kerangka NKRI. Jadi, jangan hanya bicara NKRI harga mati, tetapi ketika ada konflik, banyak pihak yang diam dan tidak menyelesaikan konflik tersebut. Bagi saya, di mana pun ada konflik, kita berusaha untuk menyelesaikannya.


Dalam konteks konflik lokal, walaupun konflik Poso, Ambon, dan Aceh sudah diselesaikan, masih ada konfl ik Papua. Apa yang Anda harapkan dalam penyelesaian konflik Papua?

Saya berharap, pemerintah bisa menyelesaikan konflik ini karena, kan, situasinya ialah masyarakat melawan pemerintah. Cuma dua pilihannya, berdialog atau perang. Saya ingin pemerintah harus bisa berdialog dengan masyarakat Papua karena semuanya merupakan bagian dari bangsa Indonesia.

Sebenarnya di Papua sudah diberlakukan otonomi khusus yang membuat kondisi ekonomi dan politik di sana jauh lebih baik jika dibandingkan dengan pada masa Orde Baru. Dengan otonomi khusus, orang asli Papua sudah mendapatkan kewenangan yang lebih baik.


Kesulitan-kesulitan apa yang Anda alami selama mendamaikan berbagai konflik?

Kesulitannya adalah mengatasi perbedaan, menyatukan pandangan, dan bagaimana mengenal baik kedua belah pihak yang berkonflik. Sering kali orang banyak salah sangka dan mempertanyakan kenapa saya punya hubungan dengan Taliban dan GAM. Misalnya dalam konteks perdamaian Palestina-Israel, saya juga kenal baik dengan PM Israel Benjamin Netanyahu. Untuk mendukung perdamaian, kita harus mengetahui persoalan dari kedua belah pihak. (P-2)

BERITA TERKAIT