10 December 2020, 21:14 WIB

Literasi Media dan Keamanan Siber Harus Diperkuat


Mediaindonesia.coom | Politik dan Hukum

KEAMANAN siber menjadi isu strategis di berbagai negara seiring dengan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi. Demikian ditegaskan Kepala Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) Letjen TNI (Purn) Hinsa Siburian dalam simposium keamanan siber nasional di Bali.

Menurut Hinsa, Indonesia harus siap siaga terhadap ancaman kejahatan siber. Hal itu, lanjut dia, juga sudah ditegaskan oleh Presiden Joko Widodo dalam pidato kenegaraan Presiden RI dalam rangka HUT ke-74 Proklamasi Kemerdekaan RI di Depan Sidang Bersama DPD dan DPR RI pada 16 Agustus 2019.  

Baca juga: BSSN Komitmen Perkuat Ketahanan dan Keamanan Siber

"Presiden menyampaikan bahwa Indonesia harus siaga menghadapi ancaman kejahatan siber, termasuk kejahatan penyalahgunaan data," kata Hinsa dalam keterangan yang diterima Media Indonesia, Kamis (10/12/2020).

Ia menambahkan, Simposium Strategi Keamanan Siber Nasional (SKSN) digelar dalam rangka mendukung penyusunan kerangka regulasi literasi media dan literasi keamanan siber. Kegiatan itu dihadiri pula oleh Asisten Pemerintahan dan Kesra Sekda Provinsi Bali I Gede Indra Dewa Putra serta Forkompimda Provinsi Bali.

Lebih jauh Hinsa mengatakan, pandemi covid-19 turut mengakselerasi transformasi digital di seluruh dunia. Menurut dia, terjadi peningkatan yang signifikan dalam pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi di kehidupan masyarakat. 

"Peningkatan traffic internet dan maraknya penggunaan aplikasi daring turut dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu untuk melancarkan serangan siber, seperti malware, phising, SQL Injection, Hijacking, dan Distributed Denial of Service (DDOS)," jelas dia. 

Baca juga: Jaga Keamanan Ruang Siber, BSSN Siap Kolaborasi dengan Telin

BSSN mendeteksi telah terjadi serangan siber sebanyak lebih dari 423 juta serangan selama periode Januari-November 2020 atau naik tiga kali lipat jika dibandingkan dengan 2019.

"Serangan menjadi tren dalam masa pandemi covid-19 ini adalah pencurian data melalui malware. Ini dapat menyebabkan kerusakan dan terganggunya stabilitas di dunia nyata," tukas dia. (RO/A-3)

BERITA TERKAIT