30 November 2020, 09:41 WIB

PBNU Desak Polisi Segera Deteksi Motif Teror di Sigi


Siti Yona Hukmana | Politik dan Hukum

PENGURUS Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mengutuk aksi penyerangan dan teror yang menewaskan empat warga dusun Tokelemo, Desa Lemba Tongoa, Palolo, Kabupaten Sigi, Palu, Sulawesi Tengah. Aparat diminta segera mendeteksi motif tindakan radikal tersebut.

"Deteksi segera motif dan pola kekerasan dan temukan aktor intelektual dan pelakunya. Proses sesuai hukum yang berlaku," seru Ketua Tanfidziyah PBNU Robikin Emhas dalam keterangan tertulis, Senin (30/11).

Robikin tidak membenarkan apa pun motif pelaku teror tersebut. Sebab, kata dia, aksi kekerasan dan tindakan melukai kemanusiaan tidak dapat dibenarkan.

Baca juga: Komnas HAM Desak Aparat Segera Tangkap Pelaku Teror Sigi

"Polisi harus bertindak cepat, terukur, dan profesional, dalam mengusut insiden penyerangan ini," ujar Robikin.

Robikin memandang tindakan teror tersebut sengaja dibuat untuk menyebarkan rasa ketakutan di tengah masyarakat. Belajar dari peristiwa penyerangan dan pembakaran serupa sebelumnya.

Dia menegaskan kelompok-kelompok penebar teror seperti itu tidak berhak mengatasnamakan elemen agama. Dia meyakini tidak ada agama yang membenarkan aksi tersebut.

"Teror juga merupakan tindakan antikemanusiaan," ucap Robikin.

Maka itu, menurutnya, harus ada langkah preventif dari penegak hukum agar kasus ini tidak merembet menjadi sentimen keagamaan. Sebab, dapat merusak kerukunan antarumat beragama.

"Jangan ada pihak manapun yang terprovokasi dan membalasnya dengan kekerasan. Apalagi mendasarinya dengan kebencian atas dasar sentimen-sentimen sektarian," pinta dia.

Menurut Robikin, sikap pembalasan itu hanya melahirkan saling curiga dan merusak persatuan dan kesatuan bangsa. Sikap itu akan mengganggu keamanan negara secara serius.

Robikin meminta masyarakat menjadikan pengalaman pahit konflik agama di Poso sebagai sejarah kelam di masa lalu.

Dia juga meminta masyarakat memperkuat anyaman kebersamaan sebagai sesama anak bangsa dan saudara dalam kemanusiaan.

"Perkuat toleransi dan saling menghormati satu sama lain. Generasi penerus bangsa lebih berhak menyerap energi postif dari kita. Bukan luka dan dendam sejarah," tutur Robikin.

Satu keluarga di Desa Lemba Tongoa, Kabupaten Sigi, Palu, Sulawesi Tengah, dibunuh pada Jumat (27/11). Pelaku diduga kelompok teroris.

Pada peristiwa itu, satu rumah pelayanan atau rumah yang dijadikan sebagai tempat ibadah oleh warga turut dibakar. Perkampungan dihuni sekitar 40 kepala keluarga (KK). (OL-1)

BERITA TERKAIT