30 November 2020, 02:20 WIB

Jangan Terprovokasi Kasus Teror Sigi


Cahya Mulyana | Politik dan Hukum

SATGAS Tinombala terus memburu pelaku yang membunuh 4 orang serta membakar 8 rumah warga dan 1 tempat ibadah di Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, pada Jumat (27/11/2020). Pemerintah pun meminta masyarakat tidak terprovokasi.

Menko Polhukam Mahfud MD menegaskan, pemerintah mengutuk keras aksi teror sarat kebiadaban di Desa Lemban Tongoa, Kecamatan Palolo, tersebut dan berjanji akan menindak tegas pelakunya. Sesuai perintah Presiden, aparat telah melakukan langkah-langkah untuk mengejar dan mengepung tempat yang dicurigai berkaitan dengan pelaku.

“Tadi Tim Tinombala sudah menyampaikan tahap-tahap yang dilakukan untuk mengejar pelaku dan melakukan isolasi serta pengepungan terhadap tempat yang dicurigai ada kaitan dengan para pelaku,” kata Mahfud, kemarin.

Pelaku, imbuh dia, adalah kelompok Santoso atau biasa dikenal Mujahidin Indonesia Timur (MIT). Mereka merupakan sisa dari kelompok Santoso yang kini dipimpin Ali Kalora.

Terkait dengan peristiwa itu, Mahfud meminta para pemimpin umat beragama khususnya di Sulawesi Tengah tetap menjalin silaturahim agar masyarakat tidak terprovokasi isu-isu SARA. “Karena sebenarnya yang terjadi bukan di sebuah gereja, melainkan memang di sebuah tempat yang selama ini secara tidak rutin menjadi tempat pelayanan umat.”

Menteri Agama Fachrul Razi juga mengecam aksi teror yang menyasar masyarakat sipil di Sigi. “Saya sampaikan duka mendalam kepada keluarga korban. Saya juga mengecam karena tindakan semacam ini tidak bisa dibenarkan atas alasan apa pun,” tandasnya.

Menag mengaku telah meminta jajarannya di Sulteng berkoordinasi dan bersinergi dengan aparat setempat untuk menyelesaikan persoalan ini.

Kanwil Kemenag Sulteng juga diminta ikut menenangkan warga agar tidak terprovokasi dan melakukan tindakan yang bertentangan dengan hukum.

PP Muhammadiyah mendesak pemerintah melalui aparat keamanan segera me nindak tegas pelaku teror di Sigi.

Menurut Sekretaris Umum PP Muhammadiyah Abdul Mu’ti, pihaknya tidak ingin aksi teror yang dilakukan MIT melebar menjadi konflik antarumat beragama.

“Aksi teror dilakukan oleh kelompok yang tidak terorganisasi dan sangat bertentangan dengan ajaran Islam.”

Mu’ti meminta pemerintah pusat dan daerah mengambil langkah cepat dengan memanggil para tokoh lokal, khususnya dari kalangan agama, untuk mencari penyelesaian yang komprehensif.

“Ini bukan masalah sederhana sehingga harus diselesaikan dengan saksama. Diperlukan kebersamaan menyelesaikan persoalan agar peristiwa serupa tidak terjadi di tempat yang sama atau tempat yang lainnya,” tuturnya.


Harus serius

Sementara itu, Direktur Celebes Institute Adriany Badrah meminta TNI dan Polri untuk benar-benar memaksimalkan Satgas Tinombala demi menghadirkan rasa aman di tengah masyarakat. Dia mengutuk aksi teror di Desa Lemban Tongoa dan mendesak aparat secepatnya menangkap pelaku.

Celebes Institute sebagai organisasi yang sejak 2011 peduli dengan program rehabilitasi dan reintegrasi mantan narapidana teroris mempertanyakan kinerja satgas yang hingga kini belum bisa menumpas MIT.

“Para pelaku dan kelompok tersebut tidak mengenal rasa kemanusiaan dengan melakukan tindakan biadab, maka aparat harus serius dan bersungguhsungguh memburu para pelaku,” kata Adriany.

Kapolda Sulteng Irjen Abdul Rakhman Baso mengatakan kekuatan MIT sudah teridentifikasi. Perburuan yang dilakukan prajurit TNI dan Polri yang tergabung dalam Satgas Tinombala pun membuat mereka tersudut.

“Pascakejadian di Lemban Tongoa mereka diburu dan semakin terdesak. Saat ini jumlah anggota MIT tinggal 11 orang. Dengan demikian, mereka sudah tidak kuat lagi,” tuturnya. (Tri/Che/TB/X-8)

BERITA TERKAIT