29 November 2020, 20:30 WIB

Jokowi Ajak Anak Muda Ikut Pecahkan Persoalan Bangsa


Dhika Kusuma Winata | Politik dan Hukum

PRESIDEN Joko Widodo mengajak kalangan muda Indonesia untuk menjadi penggerak optimisme dan simpul kreatifitas dalam memecahkan persoalan bangsa. Presiden menyakini kalangan muda memiliki keberanian untuk melakukan lompatan dan inovasi yang berdampak bagi bangsa.

Hal itu disampaikan Jokowi dalam sambutannya secara virtual di perayaan HUT keenam Partai Solidaritas Indonesia (PSI) yang digelar Minggu (29/11).

"Usia muda membawa energi perubahan, berpikir positif, berani melakukan lompatan, bergerak lebih lebih lincah dan gesit, dan selalu optimistis melihat masa depan. Indonesia membutuhkan lebih banyak lagi anak-anak muda yang berani, gesit, dan penuh semangat untuk menuju Indonesia maju," ucap Presiden.

Presiden Jokowi menyampaikan nilai-nilai yang ada pada kaum muda bisa menjadi modal memenangkan pertarungan global. Yang cepat akan mengalahkan yang lambat, yang kreatif dan inovatif akan mengalahkan yang serba rutin dan monoton.

Jokowi menilai modal kecepatan, kreatifitas, dan inovasi tersebut dimiliki kader-kader PSI yang banyak diisi kelompok muda.

Baca juga : 300 Perempuan Dilatih untuk Wujudkan Desa Ramah Perempuan

"Anak-anak muda akan menjadi segmen terbesar dari populasi penduduk Indonesia. Proporsi anak muda yang besar ini akan bisa menjadi tonik yang menguatkan bangsa kita, tetapi juga bisa menjadi toxic, menjadi racun bila kita tidak siap dari sekarang," ucap Jokowi.

Jokowi menyampaikan saat ini setiap tahunnya ada sekitar 2,9 juta penduduk usia kerja baru. Anak-anak muda tersebut merupakan kelompok baru yang masuk ke pasar kerja. Di tengah pandemi ini, masalah pengangguran dan penciptaan lapangan kerja juga menjadi salah satu tantangan yang dihadapi pemerintah.

Jokowi membeberkan terdapat kurang lebih 6,9 juta pengangguran dan 3,5 juta pekerja terdampak pandemi covid-19. Di saat yang sama, sebanyak 87% total penduduk pekerja memiliki tingkat pendidikan rendah yakni setingkat SMA ke bawah. Sekitar 39% di antaranya berpendidikan sekolah dasar.

"Ini artinya untuk menghadapi puncak bonus demografi, tidak ada pilihan lain bagi kita selain harus bekerja keras untuk menyiapkan SDM yang unggul. Kita juga harus bekerja keras menciptakan lapangan kerja sebanyak-banyaknya. Itulah yang menjadi prioritas utama pemerintah saat ini," ucapnya. (OL-7)

BERITA TERKAIT