06 September 2020, 18:50 WIB

KPK Lacak Pemberi Suap Lain ke Nurhadi


Cahya Mulyana | Politik dan Hukum

KOMISI Pemberantasan Korupsi (KPK) belum puas dengan temuan satu orang pemberi suap dan gratifikasi ke eks Sekretaris Mahkamah Agung (MA) Nurhadi. Perkara ini terus dikembangkan untuk menggali sumber lain selain Direktur PT Multicon Indrajaya Terminal, Hiendra Soenjoto yang telah berstatus tersangka namun masih buron.

"Terkait perkara ini masih terus dikembangkan fakta-faktanya yang saat ini telah penyidik miliki. Termasuk pula penelusuran lebih lanjut atas aset (Nurhadi) yang diduga hasil kejahatan," kata Pelaksana Tugas Juru Bicara KPK, Ali Fikri kepada Media Indonesia, Minggu (6/9).

Menurut dia, penyidik KPK yang menangani perkara suap dan gratifikasi dalam pengurusan sejumlah perkara di MA sejak 2011-2016 ini fokus memperkuat bukti. Penanganannya beriringan dengan pengembangan perkara termasuk menggali pemberi suap lain ke Nurhadi selain yang sudah ditetapkan tersangka.

"Selengkapnya sudah masuk materi penyidikan yang sudah dituangkan dalam BAP para saksi. Kita ikuti bersama dalam persidangan yang terbuka untuk umum nantinya ya," pungkasnya.

Sebelumnya, KPK meminta keterangan tersangka dalam kasus ini selain Nurhadi dan Hiendra Soenjoto yakni Rezky Herbiyono. Menantu Nurhadi sekaligus berperan sebagai perantara suap dan gratifikasi ini diminta menerangkan soal jejak digital mengenai transaksi.

Baca juga : KPK Disarankan Tunda Proses Hukum Calon Kepala Daerah

"Penyidik mengkonfirmasi adanya beberapa komunikasi percakapan dalam barang bukti elektronik antara tersangka dengan berbagai pihak yang diduga terkait kesepakatan penerimaan sejumlah uang," kata Ali Fikri.

Menurut dia, pemeriksaan itu dilakukan terhadap Rezky pada Kamis (3/9) selaku tersangka dugaan perkara suap dan gratifikasi terkait penanganan perkara di MA. KPK terus mendalami aliran suap dan gratifikasi kasus ini mulai dari para pemberinya maupun penerimanya.

"Hingga saat ini, saksi yang sudah di periksa dalam perkara ini berjumlah 141 saksi," pungkasnya.

Nurhadi dan Rezky ditetapkan sebagai tersangka penerima suap dan gratifikasi senilai Rp46 miliar terkait pengurusan sejumlah perkara di MA sedangkan Hiendra ditetapkan sebagai tersangka pemberi suap.

Adapun penerimaan suap itu terkait pengurusan perkara perdata PT MIT vs PT Kawasan Berikat Nusantara (Persero) kurang lebih sebesar Rp14 miliar, perkara perdata sengketa saham di PT MIT kurang lebih sebesar Rp33,1 miliar dan gratifikasi terkait perkara di pengadilan kurang lebih Rp12,9 miliar sehingga akumulasi yang diduga diterima kurang lebih sebesar Rp46 miliar. (OL-7)

BERITA TERKAIT