28 August 2020, 03:32 WIB

Pemerintah akan Siapkan Subsidi Rp9 Triliun


Aiw/Ins/X-11 | Politik dan Hukum

KEMENTERIAN Pendidikan dan Kebudayaan akan memberi subsidi kuota internet kepada siswa, guru, mahasiswa, dan dosen selama empat bulan, dari September hingga Desember 2020. Total anggaran yang akan disalurkan pemerintah untuk kuota itu mencapai Rp9 triliun.

Mendikbud Nadiem Anwar Makarim mengungkapkan dana bersumber dari optimalisasi anggaran Kemendikbud serta dukungan anggaran dari Bagian Anggaran Bendahara Umum Negara dan realokasi anggaran program Organisasi Penggerak.

“Ini yang sedang kami akselerasi secepat mungkin untuk bisa segera cair. Harapan kami, ini akan bisa membantu siswa, mahasiswa, dan guru,” ujar Nadiem dalam rapat bersama Komisi X DPR di Jakarta, kemarin.

Jumlah kuota yang akan disubsidi bagi siswa mencapai 35 GB per bulan, guru 42 GB per bulan, lalu mahasiswa dan dosen 50 GB per bulan, dengan total dana Rp7,2 triliun. Sisanya, Kemendikbud tengah menyiapkan tambahan penerima tunjangan profesi guru dan tenaga kependidikan, tunjangan dosen, serta tunjangan guru besar sejumlah Rp1,7 triliun.

“Alhamdulillah janji saya soal bantuan pulsa untuk siswa dan mahasiswa tercapai. Ini berkat kementerian lainnya juga yang telah bekerja keras untuk mengamankan anggaran dari dana cadangan,” ungkap Nadiem.

FSGI mengapresiasi

Federasi Serikat Guru Indonesia menyambut baik rencana subsidi itu. “Itu akan mengurangi beban kuota bagi guru dan siswa selama pembelajaran jarak jauh,” ungkap Wakil Sekretaris Jenderal FSGI Satriawan Salim yang berharap bentuk subsidi tersebut bukan uang, melainkan paket data langsung ke nomor ponsel siswa atau guru.

Ia menuturkan, selama ini banyak siswa yang sulit mengikuti PJJ lantaran tidak mampu membeli kuota internet. “Akses terhadap internet yang merata dan penambahan hostpot ke daerah adalah kebutuhan belajar siswa dan guru saat ini dan ke depannya,” jelas Satriawan.

Ia menyebut kemajuan dan SDM yang bermutu saat ini bergantung pada akses pembelajaran yang berbasis digital. “Generasi saat ini adalah generasi Z dan Alfa, yakni generasi digital. Mereka adalah digital native. Bagaimana digital native ini akan menjadi SDM Indonesia yang bermutu jika prasyarat akses dan perangkat digital belum merata,” pungkas Satriawan. (Aiw/Ins/X-11)

BERITA TERKAIT