23 July 2020, 15:55 WIB

Kemenhan: Pengadaan 15 Eurofighter Bekas Masih Kajian


Cahya Mulyana | Politik dan Hukum

KEPALA Biro Humas Kementerian Pertahanan Brigjen Djoko Purwanto menegaskan proposal 15 pesawat jet Eurofighter Thypoon merupakan bagian dari kajian. Sistem pertahanan tengah dibangun supaya lebih kuat, bukan hanya mengenai alutsista namun juga dari sisi mutu sumber daya manusia (SDM) prajurit TNI.

"Proses pengadaan sedang dalam tahap pembahasan dan pengkajian," ujarnya kepada Media Indonesia, Kamis (23/7).

Menurut dia, Kementerian Pertahanan tengah fokus membangun sistem pertahanan yang mumpuni. Hal ini guna mewujudkan Indonesia menjadi negara yang kuat.

"Dari segalanya, dari alutsistanya, dari SDM-nya," pungkasnya.

Baca juga: Jika Paksa Beli Eurofighter Bekas, Menhan Potensial Langgar UU

Sebelumnya Pengamat Militer dan Pertahanan Connie Rahakundini Bakrie menyarankan Kementerian Pertahanan untuk membatalkan proposal pembelian 15 pesawat tempur eks Austria, Eurofighter Thypoon. Selain pembelian alutsista bekas ini harus memenuhi ketentuan Undang-undang Nomor 16 Tahun 2012 tentang Industri Pertahanan juga spesifikasinya sama dengan Shukoi 27/35 yang sudah dimiliki Indonesia.

Menurut dia, terdapat ketentuan dalam regulasi itu yang mensyaratkan sejumlah hal dalam pembelian alutsista bekas pakai. Dengan begitu perlu kajian mendalam supaya rencana Kementerian Pertahanan ini sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Selain itu, ia juga mengatakan fungsi pengoperasian Eurofighter Typhoon sama seperti Sukhoi 27/35 yang sudah dimiliki TNI. Daripada membeli 15 alutsista bekas asal Austri lebih baik menambah jumlah Shukoi.

"Mengapa tidak beli saja lebih banyak lagi Sukhoi yang murah dan memudahkan logistik dan operasional TNI AU," tegasnya.

Bila tetap dipaksakan membeli Eurofighter Thypoon, kata dia, Indonesia akan semakin terbebani dengan sistem logistik alutsista. "Siap-siap kita akan semakin rumit dalam sistem logistik dan semakin mahal operasionalnya," pungkasnya. (OL-4)

BERITA TERKAIT