23 July 2020, 15:37 WIB

Pembelian Pesawat Bekas Austria Bisa Timbulkan Masalah Baru


Cahya Mulyana | Politik dan Hukum

MENTERI Pertahanan, Prabowo Subianto, diketahui mengirimkan surat kepada Menteri Pertahanan Austria, Klaudia Tanner, terkait minat untuk membeli 15 pesawat tempur jenis Eurofighter Typhoon.

Namun, Imparsial menilai rencana ini sebaiknya dibatalkan demi keselamatan prajurit TNI.

"Ide pembelian pesawat tempur Eurofighter Typhoon bekas dari Austria bukan hanya tidak tepat, tetapi juga berpotensi menimbulkan masalah baru. Itu akan mengulangi kesalahan di masa lalu,” ujar Direktur Imparsial, Al Araf, dalam keterangan resmi, Kamis (23/7).

Baca juga: Jika Paksa Beli Eurofighter Bekas, Menhan Potensial Langgar UU

“Pengadaan alutsista bekas menimbulkan masalah akuntabilitas anggaran pertahanan. Lebih berbahaya lagi, penggunaannya oleh prajurit TNI yang menghadapi risiko kecelakaan," imbuh Al Araf.

Menurutnya, pemerintah harus belajar dari pengalaman membeli alutsista bekas pada masa lampau. Baik itu pesawat, kapal, maupun tank, yang memiliki sejumlah problem teknis. Upaya modernisasi alutsista TNI penting untuk memperkuat pertahanan Indonesia.

Sebagai komponen utama pertahanan negara, TNI perlu dilengkapi alutsista militer yang lebih kuat dan moder. Tujuannya, mendukung tugas pokok dan fungsi dalam melindungi wilayah pertahanan Indonesia. "Penting dicatat bahwa langkah tersebut harus dijalankan pemerintah secara akuntabel, transparan, serta mempertimbangkan ketersediaan anggaran,” pungkasnya.

Imparsial juga memandang rencana pembelian pesawat tempur bekas Eurofighter Typhoon berpotensi menimbulkan penyimpangan. Sebab, tidak ada standar harga yang pasti.

Baca juga: DPR Minta Rencana Pembelian Jet Bekas Austria Harus Dikaji Lagi

"Transparency International dalam survei Government Defence Anti-Corruption Index 2015 menunjukkan risiko korupsi di sektor militer atau pertahanan di Indonesia masih tergolong tinggi," tutur Al Araf.

Sebagai catatan, pengadaan pesawat tempur Eurofighter Typhoon juga tersangkut dugaan suap dan kritik tajam di Austria. Pada 2017, pemerintah Austria melayangkan gugatan kepada Airbus ke Pengadilan Munich, Jerman. Itu terkait dugaan suap yang dilakukan produsen pesawat tempur Eurofighter Typhoon terhadap pejabat Austria.

Pemerintah Austria mengklaim kerugian negara sebesar US$ 1,7 juta, dari total kontrak pembelian sebesar US$ 2,4 milliar. Kasus ini berakhir dengan kewajiban Airbus untuk membayar denda sebesar US$ 99 juta. Airbus juga masih menghadapi proses hukum terkait dugaan penipuan dan korupsi.(OL-11)

 

BERITA TERKAIT