28 September 2022, 05:00 WIB

Badai yang Sempurna


Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group|Podium

img
MI/Ebet

FRASA the perfect storm kini menjadi kalimat pengingat di berbagai belahan dunia, termasuk di Indonesia. Tentu, saya tidak sedang membicarakan film laris dengan judul yang sama arahan sutradara Wolfgang Petersen yang dirilis 2000 itu. Sama sekali bukan.

The perfect storm yang saya maksud ialah ancaman krisis global yang sangat kompleks dan berpotensi terjadi oleh beragam sebab. Saking tinggi kompleksitasnya, ia diserupakan dengan istilah 'badai yang sempurna'. Dampaknya mirip dengan gambaran dalam film The Perfect Storm yang dibintangi George Clooney.

Saking mengerikannya, sampai-sampai hanya dalam hitungan tiga bulan, dua menko memperingatkannya. Pada Juni lalu, Menko Perekonomian Airlangga Hartarto meminta kita mewaspadai 'badai yang sempurna' itu. Menko Perekonomian menyampaikan itu dalam ceramah di Lemhannas.

Paling baru, peringatan agar kita mewaspadai the perfect storm disampaikan Menko Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan, kemarin. Saat berpidato dalam peringatan Hari Maritim Nasional, Luhut mengatakan Indonesia memang telah menjadi salah satu negara dengan ekonomi yang kuat di dunia. Namun, Indonesia harus kompak agar dapat mengurangi dampak dari the perfect storm atau krisis global yang kompleks.

Para ahli ekonomi mengidentifikasi 'badai yang sempurna' itu sebagai rangkaian krisis yang datang berbarengan. Ia datang dalam satu sapuan sekaligus. Pula, dengan kompleksitas yang tinggi.

Ada yang menyebutkannya dengan 'badai krisis 5 c'. Krisis tersebut, yakni covid-19, conflict, climate change, commodity prices, dan cost of living. Covid-19 telah menyerang lebih dari 620 juta jiwa di seluruh dunia. Tercatat lebih dari 6,5 juta orang meninggal akibat virus yang sudah berkali-kali bermutasi itu.

Pandemi covid-19 memicu krisis dan resesi ekonomi di banyak negara. Bahkan, lebih dari 40 negara terancam bangkrut akibat ketidakmampuan membayar utang luar negeri dan tidak sanggup membayar impor kebutuhan pokok mereka.

Saat krisis belum juga selesai, muncul badai krisis susulan akibat konflik Rusia-Ukraina. Invasi Rusia ke Ukraina membuat harga minyak membubung, diikuti krisis pangan dipicu pasokan gandum dari Rusia-Ukraina yang macet. Padahal, kedua negara itu merupakan pemasok utama gandum dunia.

Saat konflik Rusia-Ukraina belum menunjukkan tanda-tanda mereda, muncul lagi tensi yang terus mendidih antara Tiongkok dan Taiwan. Kunjungan Ketua DPR Amerika Serikat Nancy Pelosi ke Taiwan jadi pemicunya. Kondisi geopolitik di wilayah itu pun mulai memantik krisis.

Tiongkok mulai menghentikan bahan baku pembuatan semikonduktor ke Taiwan. Padahal, 70% lebih bahan baku pembuatan semikonduktor Taiwan dipasok dari Tiongkok. Padahal pula, Taiwan ialah produsen utama semikonduktor dunia. Sebanyak 41% pendapatan ekspor Taiwan didapat dari semikonduktor.

Padahal juga, dunia kini amat bergantung pada semikonduktor Taiwan. Taiwan Semiconductor Manufacturing Company (TSMC), produsen cip semikonduktor terbesar di dunia kini 'memimpin' dunia. Mengutip data TrendForce, TSMC menguasai 54% pangsa pasar semikonduktor dunia pada 2020.

Perusahaan tersebut memproduksi mikrocip untuk perangkat mobile, komputer berperforma tinggi, elektronik otomotif, dan internet of things (IoT). Apa jadinya bila Tiongkok yang ngambek menghentikan pasokan bahan baku pembuatan semikonduktor ke Taiwan? Tentu, kita tidak ingin kembali ke era prateknologi bukan?

Suka atau tidak suka, krisis 5 c itu akan berdampak bagi Indonesia. Kita amat bersyukur sampai hari ini Indonesia masih mampu meredam 'badai yang sempurna' itu. Namun, pertanyaannya, berapa lama kita bisa? Tentu kita tidak cukup menjawabnya hanya dengan mengatakan kita punya pengalaman melalui segala krisis.

Sejarah memang telah membuktikan sejak dari krisis moneter 1998, resesi ekonomi 2008, hingga krisis pandemi covid-19 2020, Indonesia selalu mampu bangkit menghadapi tantangan yang ada. Namun, kompleksitas yang dihadapi ketika itu belum selevel 'badai yang sempurna'. Krisis kali ini memiliki karakter, bentuk, juga kedalaman yang jauh berbeda. Eskalasinya lebih dalam.

Lalu, bagaimana menghadapi itu semua? Saya sepakat dengan pernyataan sejumlah ekonom di Indonesia. Paling utama ialah kekompakan. Spirit kolaborasi itu mesti dimulai dari teladan para pemangku kebijakan. Bila para pemangku kebijakan kompak, spirit dan aksi kolaboratifnya tinggi, serta tidak ada ego sektoral, separuh badai bisa dijinakkan.

Selain itu, kemampuan dan kejelian membaca 'peta masa depan' lalu merumuskannya secara cepat, tepat, dan smart akan menjinakkan lagi sebagian badai lainnya. Sisanya lagi, ialah kemampuan mendongkrak perekonomian domestik. Jangan salah, resiliensi kita menghadapi krisis dalam beberapa dekade terakhir ini terjadi karena lebih dari separuh pergerakan ekonomi kita ditopang kegiatan domestik. Terutama konsumsi dalam negeri.

Maka, ketika ada badai yang datang dari luar, sapuannya tidak sehebat bila ekonomi kita sepenuhnya menggantungkan ekspor. Jadi, merawat dan terus memberikan kemudahan dan insentif bagi sektor domestik akan menjadi kunci. Bila semua sudah dilakukan, badai yang paling sempurna sekalipun tetap bisa kita jinakkan. Semoga.

BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA